Senin, 08 Oktober 2018

Tips Melancong ke Pulau Peucang

Seperti artikel yang sudah saya tuliskan sebelumnya, kalau berwisata ke Pulau Peucang membutuhkan adrenalin sekaligus jiwa petualang yang tinggi. Turisnya yang melancong ke sana harus tidak boleh takut dengan laut, sigap di segala cuaca.
Ada beberapa tips yang mesti di perhatikan diantaranya :
  • Gunakan Pakaian yang tahan di 2 cuaca yaitu hujan dan panas. Hujan dan terik matahari bisa sewaktu-waktu muncul tanpa di prediksi. Jadi sebaiknya gunakan pakaian yang nyaman. Kalau tidak memberatkan, bisa juga membawa jas hujan (tergantung musim saat melakukan perjalanan)
  • Pakailah sandal gunung atau sandal jepit, kalau bisa hindari memakai sepatu karena akan sangat menyulitkan apabila bersentuhan langsung dengan air.
  • Bawa obat-obatan yang lengkap seperti obat pribadi (apabila mengidap penyakit tertentu), obat masuk angin, minyak oles atau minyak urut, lotion anti nyamuk
  • Gunakan tas yang waterproof atau ada rain covenya
  • Duduk di dalam kapal atau di bagian belakang kapal. Duduk di bagian depan kapal hanya akan membuat kita basah kuyup terkena ombak
  • Bawa perlengkapan pribadi seperti handuk, sabun mandi, pasta gigi yang lengkap. Karena disana tidak ada yang menjual kebutuhan pribadi
  • Disarankan tidak membawa anak kecil/balita ataupun orang yang sudah renta ke Pulau Peucang. Kisaran umur yang ideal kira-kira 15-35 tahun kecuali pelancong sudah kenal betul jalur yang akan dilalui
  • Hati-hati membawa makanan/camilan yang menggunakan kantong kresek. Hewan-hewan di Pulau Peucang cukup agresif dengan makanan
  • Siap tidak mendapatkan sinyal provider seluler dan gelap-gelapan setelah jam 10 malam

Minggu, 23 September 2018

Kehidupan Pesisir di Ujung Jawa

Di antara amukan badai samudera Hindia, kami berlayar. Menumpang sebuah kapal nelayan, terombang ambing di tengah lautan. Ombak berdiri di depan kami, bergulung bergiliran menghantam. Setelah satu ombak lewat, kami harus mencemaskan ombak lain sampai mencapai daratan. Dan sekeliling hanyalah air. Kubangan air yang sangat luas dan dalam. Makin tersadar bahwa kami ini hanyalah titik kecil di alam semesta.
Perjalanan kami kali ini mengikuti sebuah tur dan travel. Dalam perjalanan dengan jasa travel wisata ini, kami mendapatkan banyak rintangan. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa travel wisata karena medan yang cukup sulit untuk mencapai kawasan Ujung Kulon. Transportasi umum sulit di cari. Kapal wisata untuk ke Pulau Peucang cukup mahal harganya apabila tidak pergi beramai-ramai.
 
Peta Lokasi Pulau Peucang-Jakarta
26 Januari 2018
Berangkat dari Jakarta, meeting point di Plaza Semanggi kami duduk di pinggiran mall yang malam itu cukup ramai. Selepas bekerja seharian di hari jumat, kami datang ke plaza semanggi berharap bisa melepas penat dengan keluar sebentar dari riuhnya kota. Berbekal nomor telepon pimpinan tur, kami mulai mencari-cari rombongan yang akan membawa kami menuju Pulau Peucang. Ternyata isi rombongan yang membawa kami tidak terlalu besar, hanya sebanyak kapasitas minibus sekitar 15-20 orang peserta. Bus yang digunakan juga merupakan bus yang tidak terlau besar. Sekitar pukul 22.00 WIB, bus yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan keriuhan jumat malam di hari itu. Kami keluar melewati bagian barat Jakarta mengarah ke kota Serang, Banten. Di sepanjang tol sangatlah macet, banyak mobil dan juga truk besar melintasi jalanan untuk menuju tujuan mereka masing-masing. Sepanjang hari yang melelahkan, menumpang di dalam bus, membelah jalanan ibukota, kami mencoba untuk bisa tertidur di perjalanan. Meski kurang nyaman dengan keadaan kursi bus yang sempit.
27 Januari 2018
Pukul 01.00 WIB pagi dini hari, bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah swalayan kecil. Aku mulai terbangun melihat sekeliling yang masih tertidur pulas. Hanya beberapa orang saja yang masih sibuk dengan ponselnya memasang wajah serius ataupun tertawa sendirian. Ternyata pimpinan tur kami berhenti disini karena mengambil alat snorkling yang akan digunakan di pulau Peucang nanti. Sekitar 30 menit kami berhenti disini dan mulai merayap membelah jalanan kota yang sepi. Dengan kondisi yang cukup segar setelah bangun dari tidur, aku mulai melihat jalanan kota Serang dalam gelap. Tidak banyak aktifitas di sepanjang jalan. Kawan di sebelah mengajakku untuk kembali beristirahat. Tapi, mataku sudah terbuka lebar dan akhirnya aku hanya mengamati sepanjang jalan kota yang lama-kelamaan mulai gelap. Ternyata, rombongan kami mulai meninggalkan kota Serang menuju kota Pandeglang. Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh kegelapan pekat yang kanan dan kirinya hanya pepohonan. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya sudah cukup jauh. Dengan jalan yang minim penerangan dan berlubang sudah membuat supir bus kewalahan. Ditambah lagi jalanannya juga meliuk-liuk menambah seramnya perjalanan kami malam itu.
Waktu beranjak dari kegelapan malam menuju pagi. Tetapi, jalanan yang kami lalui masih tidak bersahabat. Semakin lama, di sepanjang jalan yang kami lewati hanyalah hutan belantara tanpa rumah penduduk samasekali. Karena mengantuk dengan keadaan tersebut, aku mulai mencoba tidur kembali. Meski kawan-kawan seperjalanan sepertinya sudah terlelap di dalam mimpi. Saat ingin tidur, aku juga tidak bisa memjamkan mata karena kondisi jalanan yang sangat parah. Lubang disana-sini membuat supir bus kesulitan mengendalikan kendaraannya. Berulang kali ia menghantam lubang jalanan yang rusak dan mengagetkan kami semua. Akhirnya, sekitar pukul 03.00 WIB kami berhenti di sebuah persimpangan, sebagai tempat istirahat yang terakhir sebelum mencapai dermaga Sumur. Dermaga Sumur adalah dermaga terakhir untuk menyeberang ke Pulau Peucang. Pada saat itu hujan turun sangat lebat. Tapi aku tahu kami sudah dekat dengan pantai. Hawanya sudah mulai panas dan layaknya bau garam laut. Kawanku ingin mencari tempat ibadah, tapi sayangnya terkunci dan kami juga tidak jadi buang air kecil. Ternyata di pedesaan seperti itu, tempat ibadah juga terkunci agar masyarakat tidak sembarangan masuk ke dalam. Cukup lama kami berdiri di luar bus untuk melancarkan peredaran darah di kaki yang sebelumnya terus menerus duduk. Meski hujan mengguyur dan petir berkelebat kami masih saja berdiri di teras warung kopi yang pada jam segitu ajaibnya ia belum menutup toko. Agak aneh untuk sebuah warung kopi di pedesaan mengingat sepinya pembeli. Mungkin karena si pemilik warung tahu kalau jalur ini biasa digunakan wisatawan apabila ingin pergi ke Ujung Kulon. Setelah 30 menit, kru tur memberitahukan kepada kami untuk masuk ke dalam bus. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju dermaga Sumur. Perjalanan kami selanjutnya makin berat. Medan yang kami tempuh selain berlubang menurun dan menanjak yang cukup tajam. Ada satu momen dimana kami sangat kaget karena supir bus yang kami tumpangi hampir tidak bisa mengendalikan kendaraannya sehingga oleng ke kiri. Beberapa kali juga bus kami berjalan sangat perlahan demi menuruni jalanan berlubang.
Dengan perjalanan yang cukup panjang, sekitar 7-8 jam kami akhirnya tiba di Dermaga Kampung Sumur Desa Tamanjaya, Ujung Kulon. Cuaca pagi itu kurang bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, terlebih lagi mendung di langit yang belum ingin beranjak. Di dermaga tersebut ada sebuah perahu nelayan kecil yang terombang ambing disapu ombak. Air laut di pinggir pantai juga berwarna kecoklatan keruh. Aku pun berpikir... sepertinya ini bukan waktu yang baik untuk berpergian mengarungi lautan. Meski begitu, kelihatannya kami harus tetap maju.
Foto dermaga Sumur
Kami menunggu sekitar 30 menit di pinggir pantai sambil meluruskan kaki, dan pergi ke toilet karena sudah menahan buang air kecil cukup lama. Kawanku juga menunaikan sholatnya dengan pergi ke salah satu pemilik rumah. Tur guide kami tidak memberikan instruksi untuk kami bisa buang air kecil atupun sekedar mencuci wajah. Maka dari itu aku memberanikan diri masuk ke rumah salah satu warga untuk mohon izin sejenak beristirahat.
Sekitar 15 menit tidak ada jawaban dari sang pemilik kapal, tur guide kami menginstruksikan untuk masuk kembali ke dalam bus karena kami akan berangkat menuju dermaga lainnya. Kru kapal kami menuju Pulau Peucang ternyata sudah menunggu di sana. Berhubung bus kami tidak bisa menuju ke dermaga karena jalan yang relatif kecil, maka kami harus turun dan berjalan kaki. Kami semua mulai mengambil barang bawaan di bagasi dan berjalan kaki menuju dermaga. Sepanjang perjalanan ke dermaga, kami melewati beberapa rumah penduduk, kebun, dan ada gudang penyimpanan untuk menjemur ikan asin. Tak berapa jauh kami berjalan, aku melihat tiang kapal berhimpitan satu sama lain lengkap dengan tali kawat yang mengikat tiang. Di tengah kapal tersebut ada sejenis gubuk kecil. Kata kawanku, gubuk kecil itulah yang ditinggali oleh nelayan manakala mereka mencari ikan di tengah lautan. Selain kapal yang semrawut, dermaga itu sangatlah kotor. Banyak kayu hasil pembakaran teronggok di pinggir pantai. Bahan plastik merek sabun cuci ternama juga aku temukan di pinggir pantai. Seketika aku langsung merasa jijik. Pantas saja Pulau Peucang juga kurang populer, secara akses sudah sulit, tempat penyeberangannya juga tidak terawat. 
Foto Jalan Kampung menuju dermaga

Diantara kapal-kapal nelayan pencari ikan, kami mulai naik ke kapal sekoci (kapal kecil) untuk menuju kapal besar yang akan kami gunakan untuk penyeberangan ke Pulau Peucang. Kapal besar kami bersandar jauh dari daratan. Pantas saja, kapal besar tidak bisa bersandar ke bibir pantai karena penuhnya bibir pantai dengan kapal besar pencari ikan lainnya. Alhasil di kapal sekoci, kami harus menunduk dan berdiri demi menghindari bertabrakan dengan lambung kapal yang besar. 
 
Foto kapal-kapal nelayan di dermaga
Setelah semua naik ke kapal, aku dan kawanku mulai mencari tempat duduk yang nyaman. Ternyata di dalam kapal, sudah penuh dengan peserta lainnya yang ikut perjalanan kali ini. Wajar saja, kami tadi naik sekoci terakhir menuju kesini. Sebuah pilihan yang kurang tepat. Demi mengobati rasa kecewa, akhirnya kami duduk di bagian depan kapal sembari dibagikan makanan oleh anak buah kapal. Menu makan pagi kami kali ini adalah nasi uduk dengan sebutir telur, bihun, tempe, dan sambal. Seharusnya menu yang lumayan enak untuk kami makan di pagi hari yang kelabu ini. Dengan perjalan yang cukup jauh, sekitar 4 jam untuk mencapai pulau Peucang kupikir perut kami harus terisi dengan makan yang baik.
Mesin tempel kapal kami pun mulai mengeluarkan suara khasnya. Tanda bahwa kami akan mulai mengarungi lautan lepas untuk sampai ke tujuan. Awalnya sekitar 15 menit pertama, perjalanan kami tidaklah terlalu bergelombang. Aku masih bisa makan nasi meskipun perut rasanya masih menolak untuk diisi. Mungkin karena gelombang yang bertubi-tubi menghantam kapal kami. Lama kelamaan aku sudah tidak berselera untuk makan. Aku yang biasanya lahap makan akhirnya merasakan samasekali tidak ingin menelan makanan karena mual digoyang gelombang laut. Jangankan ingin foto-foto, yang ada dibenakku saat itu hanyalah bisa cepat sampai ke daratan. Sepanjang perjalanan menuju Pulau Peucang, tidak ada laut yang tenang. Hampir sepanjang perjalanan kami berperahu semuanya hampir membuat perahu kami oleng. Aku dan kawanku yang duduk di depan rasanya sudah mandi air laut. Baju kami semua basah oleh cipratan air laut ke badan kapal. Disebelahku ada seorang ibu-ibu yang sepertinya bersama anaknya. Wajahnya sudah pucat dan bibirnya melantunkan doa-doa untuk bisa selamat dari ini. Anaknya pun begitu. Ia hanya memejamkan matanya dan pasrah menerima keadaan ini. Aku tidak sanggup untuk mengambil foto dalam keadaan ini. Selain karena kamera kami yang tidak tahan air, sepertinya jika aku melepaskan pegangan tanganku dari kayu kapal, aku akan terpental jatuh menghantam kayu lainnya.
Selama hampir 4 jam, kami hanya berdoa berharap bisa sampai daratan dengan cepat. Saat daratan sudah terlihat di depan mata kami, gelombang air laut juga mulai berkurang. Dalam keadaan yang sedikit tenang, aku baru mulai mengontrol keadaan dan bercengkrama dengan kawanku. Kuperhatikan juga keadaan sekeliling, ada seorang pria yang muntah di dek kapal. Ibu dan anaknya yang berwajah pucat pasi. Nasi yang tidak habis termakan dan berserakan di lantai kapal. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan sekaligus menantang adrenalin. Air disekeliling kami tidaklah biru pekat lagi. Mereka sudah berubah menjadi hijau kecoklatan. Tandanya kami sudah dekat dengan daratan.
Kami menepi dengan segala perasaan. Senang, takut, merasa baru habis melewati bahaya. Kami turun satu persatu dari kapal dan mulai berjalan melewati dek kayu yang ada di dermaga Pulau Peucang. Kapal yang kami tumpangi merapat dan bergoyang-goyang disapu ombak dan angin. Kami agak kesulitan turun dari kapal. Beberapa awak kapal berjalan mengangkut barang-barang logistik dan perbekalan kami selama di pulau.
 
Foto Dermaga Pulau Peucang
Masuk menuju pulau, kami disambut oleh beberapa binatang asli seperti monyet, rusa, dan babi hutan. Kami diarahkan menuju kamar masing-masing. Di Pulau Peucang sendiri, tidak ada sinyal telekomunikasi maupun internet. Sehingga untuk pemesanan tempat menginap juga harus on the spot di lokasi. Pimpinan tur kami harus cekatan memesan tempat menginap. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami kebagian menginap di penginapan bagian depan yang menghadap langsung ke laut. Disana ada 4 blok kamar yang bangunannya sudah cukup lama. Kayu-kayunya sudah banyak yang lapuk. Bangunan memanjang berbentuk panggung itu pun kami naiki. Mungkin karena kesulitan mencari bahan beton, akhirnya bangunan di pulau ini semuanya menggunakan kayu beratapkan seng. Rombongan kami dibagi menjadi 4 kelompok oleh pimpinan tur yaitu 3 kelompok perempuan dan 1 kelompok laki-laki. Banyak polemik dan dilema saat pembagian kamar tersebut. Aku dan kawanku yang hanya berdua banyak menjadi sasaran pemindahan kamar. Kami sudah masuk kamar satu yang dianggap penuh, lalu kami diminta untuk pindah ke kamar lainnya yang lebih besar. Haha.. sudah lelah dan kami harus di giring kesana kemari rasanya ingin marah saja kepada pimpinan tur kami. Karena kami yang malas memindahkan barang-barang akhirnya ia mengalah dan menyampaikan kepada kami kalau barang-barang kami bisa dipindahkan nanti malam saat akan tidur. Sayangnya kami lupa mengambil foto penginapan kami hari ini. Hehehehe
Selesai dengan urusan kamar yang sebenarnya belum terselesaikan, kamis beristirahat sejenak untuk berganti pakaian. Kami dipersilahkan untuk santap siang di pulau. Sebuah sajian sederhana di alam bebas dengan menu ikan bakar. Kegiatan kami selanjutnya adalah snorkeling di Ciapus. Aku tidak turun ke laut karena memang aku tidak terlalu menyukai pantai. Bagiku pantai dan laut biru itu adalah suatu kegelapan yang tak berujung, tak berdasar. Alhasil kawanku yang sangat menyukai laut itu pun turun dan menikmati keindahan terumbu karang Ciapus. Menurutnya, keadaaan terumbu karang disana masih sangat bagus belum rusak terinjak-injak oleh wisatawan yang berkunjung. Biota laut dan ikan-ikannya juga masih banyak berkeliaran. Hanya saja sayangnya pemilihan waktu yang kami ambil agaknya kurang tepat karena pasir pantai naik ke atas karang disusul ombak besar. Oleh karena itu terumbu karang dan biota lautanya tidak terlalu jelas terlihat. Lokasi snorkeling ini tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Aku dan seorang ibu-ibu juga seorang anak muda menunggu diatas kapal sementara kawan-kawan kami yang lainnya sudah terjun ke dalam laut. Ada yang berenang ria, ada yang menuju pantai bercengkrama. Dan aku hanya sibuk mengambil foto-foto sekitar lokasi yang sangat terik kala itu. Aku mendapatkan sebuah pemandangan yang bagus yaitu dua kapal besar yang berlayar melintasi selat Sunda. Sejenis kapal Tongkang. Tetapi, selain kapal ini aku lebih tertarik kepada seorang kawan yang tidak turun kelaut. Dari fisik dan gayanya, kunilai bahwa wanita yang bergaya layaknya pria ini sangat menyukai olahraga air. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi tapi cukup atletis dan tangkas di air. Memang seperti pria. Dan yang menarik kenapa ia tidak turun ke laut dengan impresi pertama ku bahwa ia suka snorkeling. Pertanyaanku belum terjawab saat itu. Kubiarkan ia mengambang sambil menikmati alam indah yang ada disekelilingku.
Foto Suasana di sekitar Spot Snorkling
Foto dua kapal muatan
Dari atas kapal kawan-kawan yang menceburkan dirinya terlihat sangat menikmati segarnya air laut di ujung pulau Jawa. Ada yang berenang hingga sampai ke ujung pantai pasir yang pendek, berenang mengikuti arus. Snorkling sepertinya memang menyenangkan bagi penikmat pantai. Menikmati keindahan bawah laut Indonesia ataupun hanya sekedar bermain air bersama kawan.

Dari cuaca yang bersahabat, tidak berselang beberapa jam, awan hitam terlihat dikejauhan diatas gugusan bukit pulau Peucang. Sepertinya awan-awan itu akan bergerak sangat cepat menuju tempat kami berada. Cuaca yang awalnya cerah, tak berselang satu jam sudah berubah drastis. Awan hitam dan angin kencang berkumpul menyerbu kami. Ternyata memang benar cuaca di sekitar perairan ini memang sangat cepat berubah. Sebentar panas terik dan sebentar lagi bisa terjadi hujan lebat. Pemandu tur kami segera memanggil dan menyarankan untuk segera naik ke atas perahu. Benar saja, dalam beberapa menit hujan deras sudah melanda disertai angin kencang.

Dari atas kapal kawan-kawan yang menceburkan dirinya terlihat sangat menikmati segarnya air laut di ujung pulau Jawa. Ada yang berenang hingga sampai ke ujung pantai pasir yang pendek, berenang mengikuti arus. Snorkling sepertinya memang menyenangkan bagi penikmat pantai. Menikmati keindahan bawah laut Indonesia ataupun hanya sekedar bermain air bersama kawan.
Dari cuaca yang bersahabat, tidak berselang beberapa jam, awan hitam terlihat dikejauhan diatas gugusan bukit pulau Peucang. Sepertinya awan-awan itu akan bergerak sangat cepat menuju tempat kami berada. Cuaca yang awalnya cerah, tak berselang satu jam sudah berubah drastis. Awan hitam dan angin kencang berkumpul menyerbu kami. Ternyata memang benar cuaca di sekitar perairan ini memang sangat cepat berubah. Sebentar panas terik dan sebentar lagi bisa terjadi hujan lebat. Pemandu tur kami segera memanggil dan menyarankan untuk segera naik ke atas perahu. Benar saja, dalam beberapa menit hujan deras sudah melanda disertai angin kencang.
Foto Awan gelap di perairan Pulau Peucang


Sekali lagi kami berlayar diatas kapal dengan perasaan was was takut kapal kami karam. Ombak yang sangat tinggi menghantam kapal kami. Aku sudah tidak bisa mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar ombak yang ada di depan kami. Sang nahkoda kapal dengan cekatan menjalankan kapalnya menuju spot snorkeling kedua di sekitar Karang Copong. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Tapi merupakan 15 menit yang sangat menguji adrenalin. Ternyata sampai di area Karang Copong, kami tidak bisa melakukan snorkeling karena ombak yang sangat besar. Akan sangat berbahaya apabila tetap dipaksakan. Hilanglah sudah kesempatan kami untuk snorkeling di sekitar karang copong sekaligus trekking melihat keindahan pantai ujung barat dari atas tebing. Karena cuaca yang sangat berbahaya, kapal yang kami tumpangi memutar haluan berbalik menuju kearah dermaga Pulau Peucang. Perjalanan kembali ini juga tidak kalah mengerikannya dengan yang lain.
Akhirnya sekitar jam 3 sore kami sampai dengan selamat di penginapan. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, sampai penginapan cuaca berubah menjadi relatif lebih baik. Tidak ada angin kencang, hanya sisa-sisa ombak yang perlahan menuju daratan. Beberapa kawan-kawan seperjuangan kami segera berganti pakaian basah mereka, ada yang mandi, bersih-bersih, mengganti pakaian basah yang mereka kenakan. Kawanku hanya berganti pakaian. Ia belum ingin mandi dan bersih-bersih mengingat sekitar pukul 4 nanti kami masih harus berangkat ke padang savana Cidaon. Sambal menunggu keberangkatan ke Cidaon, kami berjalan-jalan di sekitar dermaga Peucang dan bermain ke pinggir pantai. Pantai sekitar pulau Peucang sangat menggoda untuk dijelajahi. Airnya bersih, pasirnya putih, masih banyak biota laut di kawasan perairannya. Ada schooling fish ikan yang bergerombol bahkan ada lion fish di sekitar dermaga. Mereka sibuk mencari makanan di pinggir dermaga sembari berenang kesana kemari. Aku baru pertama kali melihat “ikan singa” secara langsung. Ternyata bentuknya memang sangat rumit dengan warna kuning dan coklat yang beragam mirip seperti tubuh singa yang belang-belang.

Foto Lion Fish

Foto Suasana pantai di Pulau Peucang
Pasir putih di sepanjang pantai juga sangat menggoda untuk dijelajahi. Menjejakkan kaki di butir-butir pasir yang halus seraya disapu gelombang halus air laut yang menuju pantai. Pulau Peucang ini dikelola oleh Taman Nasional Ujung Kulon dimana fokusnya adalah untuk pelestarian Badak Jawa yang hampir punah. Kami memang banyak mengamati satwa liar yang berkeliaran di sekitar resor Pulau Peucang ini. Di kawasan resor, terdapat beberapa bangunan yang diperuntukkan sebagai kantor petugas taman nasional, warung makan, dan penginapan. Depan kawasan penginapan ini terdapat dermaga sebagai pintu keluar masuk pulau. Diantara bangunan-bangunan ini terdapat lapangan berumput hijau yang cukup luas. Jika sore hari banyak rusa, babi hutan, dan biawak yang berkeliaran di sekitar lapangan dan penginapan. Niat awal kami untuk mendapatkan camilan di warung makan tidak terjadi karena warung yang tutup. Alhasil kami mencoba makan kudapan mie instant siap saji di resor taman nasional. Ternyata mereka juga menyediakan camilan sederhana apabila pengunjung datang ke pulau Peucang. Memang tidak banyak makanan yang dijual hanya biskuit, mie instan, kopi ataupun teh. Itupun harganya sudah sangat mahal mengingat biaya transportasi dari dermaga Sumur. Di dalam resor ini terdapat beberapa informasi mengenai Taman Nasional Ujung Kulon dan Badak Jawa. kami juga bertemu dengan salah satu pegawai resor pulau Peucang yang bernama Pak Mumu. Beliau orangnya cukup baik memberikan pemahaman kepada kami tentang seluk beluk Taman Nasional Ujung Kulon. Beliau telah bertugas di TN ini belasan tahun. Beliau juga ikut andil tentang penanaman biota laut dan ekosistem daratan pulau termasuk menghitung jumlah satwa yang dilindungi. Menurut catatan beliau, masih ada sekitar 60-an populasi Badak Jawa di Ujung Kulon. Dan penyebab utama kepunahannya karena adanya ketidakseimbangan jumlah spesies jantan dan betina. Menurut beliau, sesuai dengan teori kepunahan apabila spesies jantan lebih banyak dari betina, populasi akan berkurang. Maka dari itulah devisit betina saat ini memiliki pengaruh yang cukup besar ditambah lagi dengan adanya penyakit menular diantara kawanan Badak Jawa. 
Foto Signage Taman Nasional Ujung Kulon-Resor Peucang
Sayangnya, pengunjung yang datang ke Pulau Peucang tidak akan dapat melihat Badak Jawa secara langsung. Awalnya memang ku pikir bahwa kami dapat melihat spesies badak bercula satu ini. tetapi karena kondisi badaknya sendiri yang merupakan hewan penyendiri dan pemalu, maka akan sangat sulit untuk menemui. Badak tidak akan menuju area penginapan karena ramai dengan manusia. Mereka hidup di tengah hutan dan apabila pengunjung ingin menemukannya, harus masuk ke tengah hutan dan memiliki izin khusus dari taman nasional. Biasanya yang melakukan kegiatan ini adalah turis ataupun pengunjung yang tertarik dengan Badak Jawa ataupun untuk kebutuhan riset dan pengetahuan ilmiah. Wisatawan seperti kami tidak dapat melihat Badak Jawa secara langsung.
Tidak terasa perbincangan kami dengan Pak Mumu sudah mencapai akhir karena kami dipanggil oleh pimpinan tur untuk segera bersiap-siap melakukan perjalanan ke Cidaon. Jarak dermaga Peucang ke dermaga Cidaon tidaklah terlalu jauh sekitar 15 menit perjalanan dengan perahu. Perjalanan kami cukup tenang dengan ombak yang menimbulkan sedikit guncangan. Sebenarnya padang penggembalaan Cidaon tidaklah terlalu jauh dari dermaga Peucang. Letaknya diseberang Pulau Peucang yakni masih di daratan Pulau Jawa dan terpisah lautan. Area ini masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Pengunjung yang ingin datang harus menggunakan perahu. Dari dermaga Cidaon, kami disambut oleh pasir yang cukup hitam berbeda dengan pasir di dermaga Pulau Peucang yang berwarna Putih. Di samping dermaga ada bangunan kecil mirip pos tiket yang tidak ada penjaganya. Dari dermaga untuk mecapai padang penggembalaan Cidaon harus berjalan kaki sekitar 20 menit masuk ke dalam hutan yang berisikan tumbuhan berduri dan beberapa pohon bakau. Jalan setapak yang dilalui memang kecil tetapi cukup jelas untuk menuntun kami menuju padang penggembalaan Cidaon. Di ujung lebatnya hutan, kami menemukan sebuah lapangan yang luas berisikan sapi liar dan banteng yang sedang merumput. Banyak ranjau kotoran sapi di sekitar padang gembala. Ternyata Cidaon ini merupakan tempat merumputnya hewan liar di Pulau Peucang seperti sapi, banteng, rusa, dan yang lainnya. Pengunjung yang datang juga tidak boleh mendekat ke arah hewan liar ini karena jika mereka menyadari keberadaan manusia mereka bisa lari menjauh. Alhasil pengunjung yang datang hanya bisa melihat dari jauh dan mengambil foto. Sebenarnya ada sebuah menara pandang yang cukup tinggi untu bisa melihat dari kejauhan. Hanya saja menara pandang tersebut dipasang garis polisi dan tidak diperbolehkan untuk naik. Mungkin karena kondisi bangunan yang sudah rapuh.
Foto Suasana Pengembalaan Cidaon dari kejauhan
Selain binatang, ada satu jamur yang menarik yang kami temukan disini. Jamur ini adalah jamur yang biasa disebut “magic mushroom”. Di Bali, biasa di sebut dengan oong tain sampi yang artinya jamur kotoran sapi. jamur ini memang tumbuh di sekitar kotoran sapi yang sudah terkena hujan, sinar matahari dan mengeras. Menurut kebiasaan di daerahku dahulu, jamur yang tumbuh di kotoran sapi ini tidak boleh dikonsumsi karena akan membuat pusing, mabuk, dan tidak sadarkan diri. Tapi, di Bali sekarang juga banyak dijual dalam bentuk makanan dan minuman untuk konsumsi turis asing. Sebenarnya penjualan jamur ini juga termasuk penjualan yang illegal.
Foto Habitat Magic Mushroom
Sekitar pukul 05.00 kami puas melihat padang penggembalaan Cidaon dan bersiap-siap untuk kembali pulang ke penginapan. Kami mulai berjalan balik menyusuri jalan setapak kecil tadi. Angin kencang mulai berhembus lagi. Pepohonan di sekitar tempat kami berjalan sudah mulai beterbangan dan miring ditiup angin. Pertanda hujan akan segera datang kembali. Aku sudah berpikir bahwa kami akan diterpa ombak sekali lagi. Benar saja, sampai di dermaga Cidaon kami disambut oleh angin yang sangat kencang ditambah hujan yang cukup lebat. Mendung tebal sepertinya tepat di kepala kami. Ombak juga sudah bergoyang menyapu kapal kami yang tertambat di dermaga. Kami semua masuk berlindung di sebuah pos tiket kecil yang tanpa penjaga. 15 orang masuk ke dalam ruangan sempit dengan pakain basah. Sekitar 15 menit kami menunggu di dalam dan pimpinan tur kami menanyakan kepada nahkoda kapal apakah bisa berangkat meskipun dalam keadaan badai seperti ini. Seperti mereka meng-iya kan dan kami berlarian dalam keadaaan hujan seperti ini untuk satu per satu masuk ke dalam kapal. Aku dan kawanku yang masuk terakhir benar-benar sial harus duduk di depan geladak. Ini adalah titik yang paling tidak strategis saat hujan karena kami akan terkena cipratan gelombang laut dan hujan. Untuk melindungi tubuh dan barang yang kami bawa akhirny kami menggunakan jas hujan sembari di terpa angin. Hahahaha ingin rasanya tertawa melihat jas hujan kresek yang beterbangan dan sangat sulit dipakai. Tapi jika dipikirkan lagi, mengapa aku jadi sedih sendiri dengan penderitaan diatas kapal dalam hujan ini. Setelah semua penumpang naik, kapal mulai berjalan menembus gelombang dan badai. Ini adalah badai terdahsyat dari sebelumnya. Baju kami yang ada di geladak sampai basah semua. Meskipun aku menggunakan jas hujan, tidak ada pengaruhnya samasekali dan kami masih tetap basah. Ombak di depan kami sangat tinggi. Angin juga sangat kencang. Entah ini sudah badai keberapa yang kami lalui sejak pagi tadi.
Aku dan kawanku sudah tidak mungkin berpikir untuk mengambil foto sore ini. Diantara amukan badai dan berpegangan kesana kemari di tengah kapal yang ditimpa gelombang. Aku hanya ingin cepat sampai daratan, cepat sampai dermaga peucang, cepat sampai penginapan. Karena rasanya hari ini sangat melelahkan. Aku hanya ingin merebahkan badan di kasur yang tadi kulihat sangat tipis.
Untungnya kami tiba di penginapan dengan selamat meskipun basah kuyup. Ada beberapa orang yang tadinya sudah mandi ingin mandi kembali karena pakaian yang basah kuyup. Aku dan kawanku langsung menuju kamar, mengambil peralatan mandi, dan menunggu antrian di kamar mandi. Sudah banyak orang lain yang mengantri di depan kamar mandi. Jumlah kamar mandi disini sangat terbatas. Untuk 20 orang, hanya disediakan 2 kamar mandi sederhana yang dipakai secara bergantian. Kami juga harus melepas alas kaki untuk masuk kamar mandi. Di dalam kamar mandi ada satu WC dan satu bak besar yang airnya selalu mengalir untuk memenuhi kebutuhan kami. Penerangan juga sangat minim karena listrik dari genset hanya dihidupkan pada malam hari sekitar pukul 18.00-22.00. Di siang hari, pengunjung betul-betul memanfaatkan sinar matahari untuk keperluan penerangan. Tidak jarang juga biawak berjalan disebelah kita dan masuk kamar mandi. begitupun dengan monyet dan rusa yang juga mencari makanan dari sisa-sisa makanan pengunjung. Benar-benar hidup di alam liar.
Makan malam kami dimulai sekitar puku 19.00 setelah semuanya selesai mandi dan beribadah. Oh iya di kawasan Pulau Peucang ini juga ada mushola kecil untuk melaksanakan ibadah bagi umat muslim. Musholanya cukup bersih dan fasilitasnya cukup lengkap. Area berwudhu juga disediakan melalui keran-keran dengan selang putih yang terlihat keluar. Sepertinya instalasi air bersihnya tidak ditanam ke dalam bangunan ataupun tanah. Belum lagi kalau berwudhu terkadang ditemani babi hutan dan monyet. Tapi secara umum fasilitasnya cukup baik. Kami makan malam di belakang penginapan yang mereka sebut sebagai dapur umum. Kondisinya tidak terlihat seperti dapur, lebih terlihat seperti dapur di barak. Ada nasi yang ditempatkan di satu ember besar, lauk pauk seperti ikan kembung bakar, sayur sop, kerupuk, dan sambal merah atau sambal kecap. kami benar-benar seperti makan di barak pengungsian dengan menu seadanya. Semua menu tersebut ditempatkan di satu meja rendah yang biasa dipakai sebagai tempat duduk. Entahlah itu meja atau kursi. Yang jelas di daerahku itu biasa di sebut bale-bale. Setinggi dipan (tempat tidur) tapi difungsikan untuk duduk bersila dan menempatkan makanan. Seperti makan di lesehan. Kami berjubel memadati bale tersebut yang tidak seberapa luas. Bale-bale tersebut berada di teras dapur barak yang beralaskan tanah. Setelah mengambil makanan, aku langsung kabur jauh ke depan penginapan kami dan makan disana. Rasa makanannya juga tidak terlalu lezat, tapi cukup mengganjal perut lapar setelah diterjang badai sejak pagi.
Malam ini juga ada keributan di kamar sebelah. Aku teringat lagi tentang anak perempuan yang tidak ikut snorkling. Pada waktu di Cidaon juga iya tidak ikut snorkling. Ternyata kakinya bengkak dan terkelir sehingga harus dipanggilkan tukang urut. Hampir selama diurut tersebut, ia menangis berteriak sehingga mengundang banyak perhatian dari kamar lainnya. Ternyata kakinya terantuk kayu pada saat berangkat menuju pulau dan bengkak cukup parah. Sungguh perjalanan yang membahayakan.
28 Januari 2018
Aku terbangun saat hari masih gelap. Rasa kantuk dan lelah hari sebelumnya cukup terbayar dengan istirahat di malam hari. Aku mulai membuka mata perlahan meskipun mataku masih sulit dibuka. Di kegelapan pagi dalam posisi tidur yang berantakan antara satu orang dengan lainnya. Disebelahku terdapat sekitar 3 pasang kaki orang yang tak kukenal sebelumnya. Sepertinya mereka masih tertidur lelap. Ah iya pikiranku baru berjalan dalam keadaaan setengah sadar aku berada di penginapan barak Pulau Peucang. Perlahan kubuka mataku, dan melihat sekeliling. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak yang menggapai pantai. Tenang dan damai, suara ombak pagi pikirku.
Aku terbangun dan keluar dari barak dan mulai menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Kontan saja aku kaget karena babi hutan sudah menungguku di sebelah kamar mandi. Aku masuk perlahan-lahan mencoba untuk tidak mengagetkan mereka. Sekembalinya dari kamar mandi, aku duduk di depan penginapan kami dan mulai melihat lautan. Perlahan-lahan matahari mulai muncul dan suasana sekitar menjadi terang begitupun dengan peserta tur yang sudah mulai bangun dan berisik. Bukan hanya kami, hewan liar pun mulai bermunculan di sekitar kami. Monyet, rusa, babi hutan, biawak air asin, dan yang lainnya.
Di hari terakhir tur kami, rencananya kami akan snorkling lagi di pulau Badul dan menyusuri sungai Cigenter yang menurut sumber lain seperti amazonnya Brazil. Akan tetapi perjalanan kali ini sepertinya memang penuh hambatan cuaca. Langit mendung sudah menunggu dari pagi tadi. Pimpinan tim kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke tujuan lainnya karena akan sangat berbahaya apabila dipaksakan. Gelombang laut juga semakin tinggi. Akhirnya diputuskan bahwa kami harus segera kembali ke dermaga Sumur setelah awan mendung hilang dan hujan mereda.
Foto Babi Hutan

Sambil menunggu hujan reda, kami bercengkrama dengan kawan-kawan yang lain di depan penginapan sambil melihat hewan yang mengelilingi kami. Yang paling banyak adalah kera. mereka bergerombol membentuk satu barisan mengepung penginapan kami. Ternyata mereka mencari sisa-sisa makanan dari turis berharap belas kasihan. Kera ini sangat sensitif dengan yang namanya kantong kresek. Setiap plastik dan kresek yang mereka lihat dianggap sebagai makanan. Maka dari itu wisatawan yang membawa camilan dan makanan harus berhati-hati jika tidak ingin bersaing dengan kera-kera ini. Mereka cukup berani meminta sisa makanan dari pengunjung. Pengunjung juga sepertinya memang sering memberikan mereka makan. Padahal pegawai taman nasional sudah memperingatkan kami untuk tidak memberikan makanan kepada binatang liar. Kebiasaan ini akan merusak habitat alami mereka. Mereka akan ketergantungan dan terbiasa meminta makanan dari wisatawan. 
Foto Buaya Air Asin

Meski begitu masih banyak wisatawan yang membandel dengan memberikan makanan untuk kebutuhan foto ataupun bersenang-senang dengan binatang liar. Bahkan ada yang sengaja memberikan makanan hingga si kera melompat kearahnya dan menyambar kantong kresek tersebut. Aku miris melihat binatang itu menjilati sisa-sisa plastik makanan dan tidak jarang dikunyahnya lalu ditelan. Ada baiknya pengelola bisa membuat himbauan tertulis mengenai larangan memberi makan binatang liar agar nantinya tidak merusak ekosistem disini.
Foto Monyet Liar
Saat mendung mulai hilang, kami mulai mengangkat barang-barang kami menuju kapal. Kami akan segera meninggalkan pulau ini. Kapal kami perlahan berlayar mengarungi samudera luas meninggalkan dermaga Peucang hanya seititk kecil di belakang. Sepanjang perjalanan memang sudah diprediksi ombak besar menghantam kami. Semua penumpang masuk ke dalam kapal dan terhanyut dalam lamunan masing-masing. Ada yang berusaha untuk tertidur diantara guncangan ombak di tengah lautan. Pulau Peucang, pulau yang sulit sekali untuk didatangi bagiku. Entah kenapa perjuangan kami semua kali ini harus dipuaskan dengan kunjungan singkat yang menantang adrenalin. Tidak dapat berjumpa dengan salah satu satwa terlangka di dunia, tidak dapat mengunjungi hutan amazonnya Indonesia, dan perjalanan yang sangat melelahkan. Meski begitu, aku senang bisa mengenal lebih dekat lagi tentang Indonesia, lebih dekat lagi dengan alam, berpikir bahwa kami manusia kecil ini bukan apa-apa dihadapan alam yang diciptakan tuhan. Kami hanya seperti titik kecil yang terombang ambing di lautan mencoba menembus batas.
 
Foto terakhir di Dermaga Sumur
Pada akhirnya kami bersyukur bisa sampai dermaga Sumur dengan selamat, meski diterpa badai bertubi-tubi. meski kami terlihat seperti pengungsi diatas kapal yang terombang-ambing. Satu yang tidak akan kami lupakan senyuman indah dan pengalaman berharga kami menyelami keindahan alam di tanah Indonesia ini.
Foto by : SM
Text by : PA


Kamis, 12 Oktober 2017

Tao Toba, Sekeping Surga Jatuh di Bumi

Kalimat tersebut sepertinya tidaklah berlebihan untuk menggambarkan keindahan Danau Toba di Sumatera Utara. Kalimat itu jugalah yang dijadikan tagline dan branding untuk mempromosikan Toba. Cuaca yang dingin, sepoi-sepoi angin diatas kapal, riak air yang terbelah, dan pemandangan bukit hijau ditengah kaldera Toba.
Terinspirasi dari keinginan kuat seorang kawan akan tanah leluhurnya, disinilah kami pergi menjelajah danau diantara perbukitan yang indah. Kawanku adalah seorang setengah Batak yang hampir tidak pernah menjejakkan kakinya di tanah ini. Yang sering kudengar cerita darinya hanyalah bagaimana opungnya yang lahir di perkampungan suku Batak, mencuci pakaian di Danau Toba. Mendengar bagaimana senandung lagu-lagu Batak hanya untuk mengingatkan pada diri sendiri bahwa ia masih punya darah itu. Meski tumbuh besar jauh dari tempat itu, kerinduan akan kunjungan ke kampung halamannya tidak pernah sirna. Berbekal keinginan kuat darinya dan pergilah kami ke tanah yang sering ia sebut Tao Toba.
16 Agustus 2017
Penantian Sepanjang Perjalanan
Pagi yang cerah ini kami mulai perjalanan dari rumah menuju Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Dengan mata yang masih setengah mengantuk sembari bersemangat, kami harus mengejar penerbangan pukul 05.00 WIB. Tiba tepat waktu di bandara, kami langsung check-in di counter Citilink sebagai mitra penerbangan kali ini. Barang bawaan memang tidak banyak, hanya diatur untuk perjalanan selama 4 hari. Kawanku yang suka foto, membawa peralatan kameranya lengkap dengan tripodnya. Saat pengecekan barang, ternyata tripod tidak boleh dibawa ke dalam kabin pesawat. Kata petugas AVSEC bandara, tripod harus dimasukkan ke dalam bagasi karena diindikasi dapat melukai seseorang.
Bersemangat ingin mendapatkan foto sunrise dari atas langit, kami mencoba mencari tempat duduk yang strategis. Pilihan kami jatuh pada tempat duduk di bagian kiri pesawat di belakang sayap. Saat matahari terbit sudah mulai muncul malu-malu, ternyata kami salah memilih tempat duduk. Matahari ada di sebelah kanan pesawat sembari memancarkan semburat merah. Gagal sudah rencana kami mendapatkan foto matahari terbit yang bagus.
Foto diatas Pesawat
Perjalanan dari Jakarta ke Medan memakan waktu sekitar 2 jam 20 menit. Selain dari Medan, sebenarnya pelancong ke Samosir bisa langsung menuju Bandara Silangit. Tapi mengingat budget kami yang rendah, dan ingin menikmati perjalanan darat, kami memutuskan untuk mengambil rute ke Bandara Kualanamu. Saat akan mendarat di Bandara Kualanamu Medan, kami disuguhi pemandangan indah bukit barisan dan gugusan pegunungan Sumatera Utara. Dibawah berjajar rapi tanaman sawit lengkap dengan kanal-kanal sebagai pengairannya. Kata orang, sawit merupakan tanaman yang menyerap banyak air. Lama kelamaan cadangan air di Sumatera bisa habis oleh kebun sawit. 
Kami mendarat di Bandara Kualanamu sekitar pukul 07.30 WIB. Dengan keadaan perut yang lapar, kami mencoba mencari makanan khas Medan yang ada di sekitar bandara. Ternyata pagi hari di bandara Medan sangat sulit mendapatkan makanan yang enak. Hanya ada beberapa makanan impor yang buka, dan dengan sangat terpaksa kami harus makan demi mengganjal perut yang lapar.  Selesai sarapan, kami pergi ke travel umum yang akan mengantar kami ke Danau Toba. Travel tersebut bernama Nice Trans (0812-6425-0898) yang melayani rute Medan-Kualanamu-Parapat (Danau Toba). Mobil travel Nice Trans berupa mobil sedan berpelat kuning yang dapat memuat 5-7 orang penumpang. Travel ini dapat langsung dipesan di pintu keluar bandara tarifnya adalah Rp. 80.000/orang yang berangkat tiap satu jam sekali. Dengan adanya travel ini sangat mempermudah perjalanan menuju Parapat. 

Perjalanan darat menuju Parapat melewati jalur Kualanamu-Lubuk Pakam-Tebing Tinggi-Pematang Siantar-Parapat ditempuh selama kurang lebih 4-6 jam. Kami berangkat sekitar pukul 09.00. Lamanya perjalanan bergantung pada kondisi lalu lintas sepanjang perjalanan dengan kondisi jalan yang cukup baik. Supir travelnya juga tidak ngebut saat membawa kendaraan sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Selama perjalanan, banyak hal yang dapat dilihat mulai dari keramaian kota lintas Sumatera, perkebunan sawit, durian medan, dan yang paling banyak disepanjang jalan adalah BPK dan Lapo Batak. Berjam-jam di dalam mobil membuat kami bosan juga. Setelah 4 jam perjalanan, mulailah kami memasuki kawasan hutan dengan vegetasi yang cukup lebat sebagai tanda kami sudah masuk kawasan Geopark Toba. Pertama kali yang terlihat saat kendaraan kami sudah dekat dengan Parapat adalah menawannya danau Toba. Danau Toba adalah danau terluas di Pulau Sumatera, dimana ditengahnya terdapat Pulau Samosir. Dari kejauhan sudah terlihat birunya danau dihiasi dengan perbukitan savana hjau kecoklatan. Kalau kata kawanku, seperti raksasa yang sedang tidur lelap, terlihat tenang, damai, tanpa kita tahu dia akan bangun ataupun mengamuk. 
Foto Peta Jalur
Foto Nice Trans

Sebenarnya untuk menyeberang ke Pulau Samosir, ada banyak penyeberangan di Parapat. Yang terkenal adalah 2 lokasi penyeberangan yaitu Ajibata (Parapat) menuju ke Tomok (Samosir) dan Tigaraja (Parapat) menuju ke Tuk-Tuk (Samosir). Penyeberangan di Ajibata Parapat menggunakan kapal ferry yang cukup besar dan dapat memuat kendaraan seperti mobil dan motor masuk ke Pulau Samosir. Pelabuhan Tomok di Samosir juga merupakan pintu masuk utama ke Samosir dimana terdapat pasar besar, sentra oleh-oleh, Makam Raja Sidabutar, Museum Batak, Sigale-Gale. Tapi di Tomok, tidak ada penginapan yang berkelas seperti di Tuk-Tuk. Jika kita tidak menginap di Samosir, membawa kendaraan bermotor, sebaiknya pilihlah Pelabuhan Ajibata yang wisatanya lengkap. 
Namun, apabila kita merupakan wisatawan yang tidak membawa kendaraan dan ingin menikmati damainya Toba sambil menginap di Samosir, sebaiknya anda langsung menuju pelabuhan Tigaraja Parapat untuk bisa langsung sampai di Tuk-Tuk Samosir. Kapal ferry untuk menyeberang di Tigaraja juga sangat kecil dibandingkan di Ajibata. Di Tuk-Tuk kita bisa menikmati wisata penginapan karena hotel-hotel berkelas di Samosir rata-rata berlokasi di daerah ini. Bisa dikatakan Tuk-Tuk merupakan wilayah turis asing maupun lokal yang ingin berlibur di Danau Toba. 
Kami memutuskan untuk langsung menuju pelabuhan Tigaraja, mengingat tujuan kami merupakan wisata penginapan, dan kami tidak membawa kendaraan bermotor. Travel yang mengantar kami tiba di Pelabuhan Tigaraja sekitar pukul 13.00 WIB. Ternyata sampai di pelabuhan ini kami juga disambut oleh Pasar Tigaraja. Di pasar ini banya terdapat buah-buahan khas Toba seperti mangga udang, buah delima, pisang, kacang sihobuk, jeruk samosir. Saya tertarik dengan mangga udang samosir yang bentuknya sangat kecil. Ukurannya sebesar buah terong belanda, hanya saja bentuk dan rasanya tidak lain seperti mangga. Begitupun dengan buah delimanya, ternyata buah delima disini banyak yang keriput. 
Foto Pasar Tigaraja
Untuk menyeberang ke Samosir, kita tidak perlu membeli tiket penyeberangan. Tarif penyeberangannya adalah Rp. 15.000/orang dan dibayar saat diatas kapal. Kapal yang digunakan adalah kapal ferry kecil yang berkapasitas sekitar 30 orang. Di pelabuhan Tigarja ini tidak terdapat toilet umum dan petugas informasi penyeberangan. Sehingga kami memutuskan untuk menggunakan toilet masyarakat di sekitar pelabuhan yang memang diperuntukkan bagi wisatawan. Kondisi toiletnya memang tidak terlalu bersih tetapi cukup untuk saya yang sudah tidak tahan buang air kecil. Tanpa petugas informasi untuk penyeberangan, kami memberanikan diri untuk bertanya pada namboru pemilik rumah. Penyeberangan ke Tuk-Tuk berangkat setengah jam lagi sekitar pukul 13.30, sembari menunjuk kapal yang gilirannya berangkat. Nama kapalnya adalah Jogi. Kami putuskan untuk menyeberng nanti menumpangi Jogi. Sementara menunggu kapal yang akan berangkat, kami memesan makanan hangat dan ngobrol santai dengan Mamak Sinaga yang setiap hari berjualan makanan kecil di Pelabuhan Tigaraja. Kulitnya yang mulai menghitam karena terik sinar matahari, keriput di pelipis yang beberapa kali terlihat ketika ia tertawa. Meski begitu, tak pernah surut keinginannya untuk mencari rezeki demi menyekolahkan anak-anaknya yang masih kecil. Satu hal yang unik saat kami sampai di Parapat. Mamak-mamak Batak itu pasti akan bertanya. "Boru apa kau?". Awalnya saya bingung dengan pertanyaan itu, meski lama-kelamanaan mengerti maksudnya. "Dari mana asalmu?". Mau dari suku apapun, dari daerah manapun, mereka akan selalu setia menanyakan pertanyaan boru apa. Boru adalah sebutan marga apa untuk seorang perempuan suku Batak. Saat kapal kami akan beranngkat, Mamak Sinaga mengingatkan kami untuk segera naik. Ia juga harus menjajakan daganganya kepada penumpang kapal yang sudah masuk terlebih dahulu. Ternyata begitu, dagangannya dipikul, dengan senyum dan semangat ia menjajakan kepada wisatawan. Sebuah pengalaman yang berharga bisa bertemu dengan Mamak Sinaga, walau hanya dipersimpangan Tigaraja, kami terasa dekat dan bertukar pengalaman satu sama lain.
Foto Kapal Jogi
Kapal akan berangkat, entah bagaimana kawanku menanyakan uang koin. Untuk apa dia bertanya uang koin receh, toh disini kita sudah jauh dari pengamen Jakarta yang beringas. Ternyata di bawah ada anak-anak yang melakukan aksi berenang mencari koin yang dilempar wisatawan ke danau. "Kak.. lempar lagi. Lima ribu aja kak". Sayangnya kami memang tidak mempersiapkan uang koin untuk dibagikan ke anak-anak ini. Aksi yang tak pernah terlewat di dermaga manapun di Indonesia.

Perjalanan di kapal kami nikmati dengan sepenuh hati, merasakan semilirnya angin Toba diantara teriknya matahari siang. Suara mesin kapal membelah air danau, mengeluarkan busa yang panjang membentuk ombak. Dikejauhan bukit-bukit menjulang megah dan kokoh memancarkan warna hijau, coklat, biru, putih kabut. Kami berperahu selama 30 menit hingga sampai di Tuk-Tuk. Dermaga umum Tuk-Tuk memang tidak terlalu besar. Hanya ada dek beton yang menjorok ke danau dan beberapa ferry kecil yang parkir menunggu penumpang. Kami juga tidak turun di dermaga umum, tetapi langsung menuju Hotel Carolina, tempat kami menginap. Sebelumnya memang kami sudah reservasi dari Jakarta memesan kamar di hill Hotel Carolina. Petugas hotelnya yang mengarahkan kami untuk meminta ferry Tigaraja langsung mengantar ke hotel. Kebetulan hotel Carolina juga lokasinya sangat dekat dengan dermaga Tuk-Tuk dan berada di satu deretan hotel lain di Samosir. 

Foto Hotel Carolina
Foto Hotel Carolina 
Ternyata sesuai dengan ulasan di internet, hotel ini merupakan salah satu penginapan terbaik dengan view danau. Hotel Carolina menyediakan berbagai macam kamar tentunya dengan varian harga berbeda. Kami mengambil kamar yang termurah yang terletak di hill (bukit) seharga Rp. 275.000/kamar/malam tanpa sarapan (0625-451210/451100, 0812-65000-422 WA). Jika ingin sarapan ataupun makan malam, tamu dapat memesan langsung di restoran, atau via whatsapp (tidak ada jaringan telepon di kamar) dan harga makanan di hotel juga tidak mahal. Kamar kami berkapasitas 2 orang twin bed. Menginap di sini memberikan sensasi berbeda seperti menginap di rumah adat Batak, Rumah Bolon. Arsitekturnya dibuat semirip mungkin dengan Rumah Bolon lengkap dengan ukiran atau ornamen khas Batak. Kamar di hill menurut saya sangat luas untuk ukuran 2 orang. Lantainya terbuat dari kayu sehingga apabila kita menginjak seringkali menimbulkan bunyi. Seperti umumnya arsitektur rumah Batak, bagian atas digunakan sebagai tempat tinggal dan bagian bawah (kolong) digunakan sebagai tempat ternak. Begitu juga Rumah Bolon di hill ini, bagian bawahnya juga digunakan sebagai penginapan, sehingga satu rumah bisa memuat 2 kamar lantai atas dan bawah. Kebetulan kami dapat menginap di lantai atas sehingga tidak khawatir akan berisiknya lantai kayu. Fasilitas di dalam kamar standar dimana saat masuk kita akan disambut oleh Ulos Batak. Air mineral juga tidak lupa dan yang terpenting adalah kasur dan perlengkapan tidur. Kamar mandi juga cukup baik hanya saja memang di kamar yang paling murah ini tidak terdapat air panas (hot water). Lelah dan penat yang kami rasakan setelah menempuh perjalanan jauh terbayar dengan pemandangan Danau Toba dari jendela hotel. Rasanya damai, tenang, dan menyenangkan.
http://www.carolina-cottages.com/
Foto Kamar Tidur
Foto Kamar Mandi

Foto kamar dan kamar mandi
Kami memutuskan untuk menyewa sepeda dalam menjelajahi Toba sore ini. Harga sewa sepeda adalah Rp. 15.000/jam/sepeda. Karena kami berdua, maka kami putuskan untuk menyewa 2 buah sepeda. Baru mengayuh beberapa saat, kami sudah kelelahan akibat dari kebiasaan kami yang tidak pernah berolahraga. Hanya berjalan-jalan sebentar merekam pemandangan Tao Toba, kami memutuskan untuk pulang ke hotel lagi. 
Foto Pemandangan Tao Toba

17 Agustus 2017
Toba, Kombinasi Cantik Alam dan Budaya
Hari ke-2 adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia. Hari ini kami memutuskan untuk merayakan hari kemerdekaan dengan menjelajahi Geopark Toba. Itinerary perjalanan sudah kami bicarakan terlebih dahulu. Daerah yang ingin kami jelajahi hari ini adalah Tomok-Ambarita-Parbaba-Pangururan-Pusuk Buhit-Tele. Perjalanan kami di Tomok di mulai dari melihat pasar Tomok, Museum Batak, Makam Raja Sidabutar, dan Sigale-Gale. Kami memutuskan untuk menyewa sepeda motor di hotel. Harganya Rp. 80.000/hari sudah lengkap dengan bensinya.
Pagi itu cukup dingin. Udara dinginnya Samosir memang menusuk tulang. Semalam kami tidak mendapatkan makanan enak. Sehingga pagi ini kami bertekad untuk dapat mencicipi makanan khas Toba. Berhubung kawan saya merupakan seorang muslim, kami harus dapat mendatangi rumah makan yang menyediakan makanan halal. Ternyata di Pulau Samosir tidak sulit menemukan makanan halal. Diantara penduduk pulau ini, tidak sedikit juga yang merupakan masyarakat muslim. Asalnya juga beragam, ada yang Batak Muslim atau suku Jawa yang merantau. Meski tidak sulit menemukan makanan halal, tetapi kebanyakan rasa masakannya tidak terlalu lezat. Harganya juga terbilang mahal. Kami makan berdua dengan menu ayam dan ikan bisa mencapai Rp.60.000. Bahkan ada satu rumah makan yang menyediakan kami jus jeruk pahit. Kami bingung, karena dilayani oleh anak laki-laki yang menurut perkiraaan saya ia tidak bisa memasak ataupun menghidangkan makanan. Alhasil keluarlah menu baru jus jeruk pahit. Masakan halal di Samosir kebanyakan seperti makanan Padang yang berbumbu, santan, dan berminyak. Mungkin apabila wisatawan non-muslim yang berkunjung ke sini dapat mencicipi makanan khas Batak yang ada di Lapo.
Melupakan sejenak rasa makanan yang tidak enak, kami memutuskan untuk mengunjungi Makam Raja Sidabutar. Kunjungan ke makam ini merupakan kunjungan kami yang paling absurd di Toba. Bagaimana tidak? Saat kami masuk ke makam tidak ada penjaga ataupun pos informasi. Beruntung letak makam raja Sidabutar ini di perkampungan masyarakat dan sekarang digunakan sebagai pasar sentra oleh-oleh. Ada seorang mamak Batak yang memberitahu kami untuk menggunakan ulos yang disediakan di depan makan dan memberikan donasi seikhlasnya. Sistem masuk di semua makam, museum, dan kampung di Samosir ini menggunakan sistem donasi. Pengunjung dapat masuk dan melihat-lihat tidak dipatok tarif per rupiahnya.
Kami masuk ke makam yang sepi, kira-kira berukuran 4 x 5 meter. Karakteristik makam yang khas adalah terdapat beberapa makam raja beserta keluarganya dan didepannya terdapat ampiteater kecil tempat duduk-duduk pengunjung yang datang. Sibuk foto-foto dan mengamati makam, kami dikejutkan oleh seorang bapa tua yang sedang bersih-bersih menyapu di halaman makam. Kami senyum ke bapa itu, tapi ia tidak tersenyum sama sekali malah sibuk memelototi kami. Kami yang merasa diamati merasa tidak enak perasaan dan menyudahi aktivitas foto-foto lalu menuju pintu keluar. Sebelum keluar, kami di cegat oleh bapa tua tersebut dan mengisyaratkan kami untuk mengembalikan ulos dan meminta uang donasi kembali. Aku yang bingung dan takut langsung mengembalikan ulos dan memberikan selembar dua puluh ribuan. Bapa tua itu mengambil ulos kami dan uang donasi alu meletakkannya diatas makam yang diisi sesajen buah jeruk. Kami langsung keluar dan bingung se bingung bingungnya orang yang tidak mengerti.
Foto Makam Raja Sidabutar
Masih bingung dengan kejadian tadi, kami mengunjungi museum Batak yang letaknya tidak jauh dari Makam Raja Sidabutar. Museum ini tidak sulit ditemukan. Mungkin karena kami datang terlalu pagi, museum ini pun belum ada pengunjungnya. Kami masuk ke dalam disambut oleh seorang ibu berdaster hitam. Sepertinya memang pemilik museum ini yang dikelola oleh keluarga. Biaya masuknya pun juga hanya berupa donasi. Di dalam museum yang berupa rumah Batak ini terdapat alat musik tradisional, perapian/tungku, rumbi (tempat penyimpanan), senjata, boneka sigale-gale, dan koleksi lainnya. Museum ini juga menyediakan cinderamata berupa patung-patung dan ornamen Batak yang dapat dibeli oleh pengunjung. Ornamen yang wajib dalam sebuah rumah Batak adalah ornamen gorga. Masing-masing motif gorga mempunyai makna tersendiri. Biasanya motif gorga ini terdiri dari 3 warna yaitu merah, putih, dan hitam. Motif yang umum terlihat di setiap rumah Bolon yang saya jumpai adalah Gorga Boras Pati (menyerupai cicak) dan Gorga Adop-Adop (payudara). Maknanya adalah jika binatang cicak sering nampak maka panen akan melimpah, tanaman subur. Sedangkan payudara bermakna anak-anak penghuni rumah akan sehat dan pemilik rumah akan memiliki banyak keturunan. Ada banyak lagi makna ukiran gorga di rumah Bolon seperti motif harimau, matahari, yang sarat dengan filosofi kehidupan.
Foto Ornamen Museum Batak 

Foto Signage Museum Batak
Puas mengunjungi museum Batak, kami beranjak menuju tempat pertunjukan Sigale-Gale di daerah Tomok dengan berjalan kaki. Pertunjukan ini sudah dinanti oleh kawanku yang ingin manortor, menari tor-tor khas Batak. Memasuki huta (kampung) sudah dipasang tirai putih. Kami penasaran mengapa dipasang tirai putih, apakah ada kematian atau pernikahan atau acara lainnya. Ternyata pemasangan tirai ini bertujuan agar pengunjung dari luar tidak sembarangan masuk menonton tarian Sigale-Gale. Untuk ikut menari dan menikmati pertunjukan ini dikenakan biaya Rp. 5.000/orang dipandu oleh penduduk lokal. Langsung saja ajakan ini kami sambut, dimana kawanku langsung mengenakan atribut ulos dan ikat kepala sedangkan aku sibuk mengambil posisi untuk memotret. Tarian Sigale-Gale ini berlangsung sekitar 15 menit dengan musik Batak yang mengalun keras. Ada sekitar 3 jenis tarian berbeda yang dibawakan beramai-ramai. Saat itu kami bergabung dengan 6 orang wisatawan lainnya menari tor-tor. Selama musik mengalun, gerakan tangan penari khas manortor mulai menghipnotis. Ditambah lagi boneka Sigale-Gale dibelakang kami yang juga ikut menari. Boneka Sigale-Gale merupakan boneka anak Raja Batak yang meninggal dalam perang. Dahulu kala pulau Samosir dihuni oleh banyak huta (desa) yang dipimpin oleh seorang raja. Antara satu huta dengan huta yang lain sering berperang dan yang berperanglah anak raja. Ketika sang anak tidak berhasil merebut kemenangan, dan gugur dalam pertempuran sang raja sangat bersedih. Untuk mengatasi kerinduan akan anaknya tersebut, sang raja menugaskan pematung di kampung tersebut membuat boneka anaknya yang dinamakan Sigale-Gale. Konon, boneka ini dibuat persis menyerupai susunan tubuh manusia hingga mata, alis, lidah, jari-jari, dan bagian detail lainnya. Sang pembuatnya harus mencurahkan seluruh jiwanya untuk membuat boneka ini hidup. Tidak jarang pembuatnya bisa meninggal setelah menyelesaikan boneka ini. Dahulu, apabila ada pesta kematian, boneka ini akan menari sendiri sesuai dengan alunan lagu yang dimainkan. Tapi saat ini unsur mistis Sigale-Gale sudah jauh berkurang. Saat ini pertunjukan Sigale-Gale untuk wisatawan sudah digerakkan dengan alat oleh pemain boneka.
Foto Manortor

Foto Sigale-Gale
Cukup dengan wisata budaya, kami memutuskan untuk melihat-lihat suasana Pasar Tomok. Pasar Tomok didominasi pedagang oleh-oleh dan cinderamata seperti baju kaos Batak, ulos, daster motif gorga seperti toko oleh-oleh di Bali. Selain pasar oleh-oleh, kami sempat mampir ke pasar tradisional yang menjual bahan pokok, ikan, daging, bumbu rempah khas Toba. Yang sangat ingin kami cari adalah andaliman yang katanya hanya ada di Toba. Setelah bertanya kesana kemari di pasar yang pedagangnya tidak banyak, kami menemukan andaliman rempah khas Batak yang kami cari. Ternyata andaliman ini wanginya sangat menyengat. Bentuknya kecil-kecil berumpun seperti merica. Beberapa kali memang aku pernah makan sambal andaliman ini dan memang sangat enak. Kawanku membeli setengah kilo seharga Rp.15.000 untuk dibawa pulang. Katanya mamak penjualnya, andaliman bisa tahan hingga 5 hari diluar tanpa pendingin. 
Foto andaliman
Foto Suasana Pasar

Matahari semakin beranjak keatas menandakan kami harus segera pergi meninggalkan Tomok menuju Ambarita. Sehari ini, kami ingin bisa mencapai Menara Pandang Tele di Pangururan. Ambarita letaknya tidak jauh dari Tuk-Tuk, tempat kami menginap. Dari Tomok kami harus melalui Tuk-Tuk lalu singgah di Ambarita mengunjungi Huta Siallagan. Sekitar 30 menit dari Tomok, kami sudah sampai di Batu Parsidangan Huta Siallagan. Sama seperti huta (kampung) Batak lainnya, disini terdapat rumah Bolon yang berjajar rapi. Yang diperlihatkan dikampung ini adalah batu kursi parsidangan raja Siallagan. Di tengah kampung terdapat satu kompleks batu yang dipahat menyerupai kursi. Batu kursi ini terbuat dari lava vulkanik saat terangkatnya Pulau Samosir. Konon, disinilah sang raja mengadili penduduknya yang melakukan kejahatan. Apabila melakukan kesalahan yang terlampau berat, terdakwa bisa dipasung di bawah rumah Bolon milik raja. Mungkin disinilah cikal bakal keturunan masyarakat Batak yang biasanya bekerja di jalur hukum seperti menjadi hakim, pengacara, dan penegak hukum lainnya. 

Foto Huta Siallagan
Pukul 11.00 WIB kami sudah meninggalkan Ambarita menuju Parbaba. Lewat dari Ambarita menuju Simanindo cuaca dingin sudah mulai berkurang. Deretan bukit dan pegunungan digantikan dengan pemandangan danau yang seperti pantai. Di Simanindo juga terdapat satu perkampungan yang juga terkenal dengan  pertunjukan Sigale-Galenya. Kami memutuskan untuk tidak mengunjungi Huta Bolon Simanindo karena waktu yang sempit.
Sepanjang perjalanan, kami tidak henti-hentinya mengabadikan keindahan bukit dan danau Toba sementara kendaraan roda dua kami melaju. Banyak desa yang kami lewati hingga sampai di Parbaba. Selama perjalanan tersebut, kami melihat banyak makan di pinggir jalan. Kondisi dan luasan makam tersebut menurut saya tidak masuk akal, sangat besar. Bahkan lebih mewah makan daripada rumah penduduk di sepanjang jalan. Makam Toba ada yang berlantai 2, berbahan beton, lengkap dengan keramik sebagai penghiasnya. Mungkin inilah representasi masyarakat Toba akan kehidupan setelah kematian. Orang yang meninggal layak dimakamkan dengan baik untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengenang jasa mereka selama hidup. 
Foto Makam Toba
Parbaba merupakan wilayah danau Toba yang seperti pantai. Ambarita-Parbaba kami tempuh dalam waktu 1 jam. Untuk masuk pantai, kami dikenakan retribusi Rp 2.000/orang ditambah Rp.2000/motor. Pantai Parbaba ini merupakan sedikit daerah datar di tepian danau Toba. Di depan pantai sudah menjulang perbukitan. Fasilitas yang ada di sini juga cukup baik seperti tenda dan payung untuk berteduh, pedagang makanan dan minuman, bahkan ada wahana banana boat, pelampung, dan perlengkapan wisata air lainnya. Di tepi pantai terdapat tempat berfoto dengan ikonik love pasir putih Parbaba Samosir. Kami tidak banyak bermain di pantai ini karena pengunjung sangat membludak. Tepat pukul 12.00 kami memutuskan untuk makan siang di sebuah warung pantai. Mereka menyediakan makanan halal dan lagi-lagi seperti masakan padang. Rasa makanannya memang tidak terlalu enak tetapi cukup membantu disaat kami lapar. 
Foto Pantai Parbaba
Kami melanjutkan perjalanan menuju Pangururan. Awalnya kami bingung antara Pusuk Buhit, Aek Rangat, dan Pangururan. Pemahaman awal kami bahwa untuk mendaki ke Pusuk Buhit harus melalui Aek Rangat. Bertanya pada penduduk lokal di pertigaan Pangururan, mereka juga bingung yang mana dinamakan Pusuk Buhit. Google maps pun tidak dapat membantu kami kali ini. Sampai di pertigaan Pangururan, artinya kami sudah meninggalkan daratan Pulau Samosir menuju ke daratan Sumatera. Perbatasan ini ditandai dengan jembatan kecil sebagai penghubung.
Foto jembatan
Berhenti sejenak, kami memutuskan untuk mengambil jalan ke arah kanan dari posisi kami saat ini. Itu artinya kami akan masuk ke daerah Aek Rangat Pangururan. Dalam kondisi panas terik matahari seperti ini kami tidak mungkin mandi air panas dan akhirnya hanya mengambil foto dari jauh. Kami bertanya pada penduduk sekitar untuk cara menuju Pusuk Buhit. Kami mengira awalnya untuk memulai pendakian ke Pusuk Buhit harus melalui Aek Rangat. Tapi ternyata jalur yang dilalui adalah melewati Desa Lintong. 
Foto Aek Rangat
Kami memutuskan untuk mencari daerah yang dinamakan Lintong. Berputar balik dari Aek Rangat kami menuju ke arah Tele. Baru berkendara selama 10 menit kami melihat ada jalan semen bercabang dari jalan utama tepat di signage danau Toba. Ada tulisan pendakian Pusuk Buhit tercetak dalam sebuah spanduk yang sudah usang. Kami mengambil jalur pendakian tersebut karena masih dapat dilalui oleh kendaraan roda dua. Awalnya jalanan meliak-liuk tajam dan masih bersemen. Di kiri kanan jalan hanya terdapat tebing dan jurang yang langsung mengarah ke Danau Toba. Jalanan ini membelah bukit. Lama keamaan jalan yang kami lalui berupa jalanan tanah berdebu dan kemungkinan besar berlumpur ketika musim penghujan. Jalanan yang kami lalui ini sangat licin dan berkerikil. Salah sedikit kami bisa langsung terjun ke Danau Toba. 
Foto Kondisi Jalan

Foto Jalan Menuju Pusuk Buhit
Berkendara selama 30 menit kami masih belum sampai juga di Puncak Pusuk Buhit. Beberapa kali kami bertanya kepada penduduk yang lewat ataupun anak-anak sekolah yang sepertinya ada kegiatan disana. Kami diberitahu bahwa di Desa Buhit desa terakhir sebelum memulai pendakian terdapat guide lokal untuk mengantar pendaki. Sampai di desa ini, kami membeli bensin untuk persediaan hingga bisa titik terakhir untuk bisa dicapai sepeda motor. Harga bensin disini cukup murah menurut kami hanya Rp.9000/liter. Untuk ukuran daerah yang cukup jauh dari jalan raya, harga ini bia terbilang murah. Kami menanyakan pendakian ke Pusuk Buhit kepada mamak penjual bensin. Kata beliau, "Mendakinya bisa sampai 3-4 jam hingga di puncak". Kami kaget dengan pernyataan mamak itu. "Banyak orang kira disini puncak dari Pusuk Buhit. Tapi sebenarnya bukan disini, tapi dibelakang itu" sambil menujukkan gunung yang menjulang megah di depan kami. Aku hanya tertawa  kaget mengatakan pada kawanku. "Hahahaha". Kalo ini sih kita harus kasi satu hari penuh buat mendaki". Akhirnya kami memutuskan untuk tidak mendaki puncak Pusuk Buhit. Padahal kami sudah membayangkan katanya Pusuk Buhit adalah tempat Si Raja Batak pertama turun. Bisa dikatakan disinilah cikal bakal dimulainya keturunan Batak. Katanya dipuncaknya kita juga dapat melihat keseluruhan Danau Toba.
Merasa cukup  dengan cerita mamak penjual bensin, kami putar balik menuju arah turun ke jalan utama. Di sepanjang jalan, kawanku dikejutkan oleh tanaman kopi yang sangat banyak. Ini adalah kebun kopi milik masyarakat. Sepertinya kopi Arabica. Kami memutuskan untuk turun dan menanyakan pada salah satu penduduk lokal yang di depan rumahnya sedang menjemur kopi. Baru kami bertanya sepatah kata soal kopi, mamak itu sudah bertanya. "Boru apa?" Lagi-lagi pertanyaan khas dari tanah Batak. Ternyata kopi yang ditanam merupakan kopi lokal yang sering disebut dengan kopi Lintong. Kawanku yang penggemar kopi awalnya ingin membeli kopi bubuk. Ternyata semua sudah dijual di Pangururan. Alhasil kami harus puas hanya dengan foto tanaman kopinya.
Foto Kopi

Meskipun tidak mendaki ke Pusuk Buhit, kami tetap puas dengan pemandangan danau Toba di sepanjang jalan. 
Foto Danau
Tujuan terakhir kami hari ini yaitu Menara Pandang Tele. Pangururan-Tele dapat ditempuh selama 1 jam dengan jalan yang berkelok-kelok. Cuaca di daerah ini juga tidak menentu kadang hujan kadang terik. Sampai di lokasi menara pandang, kami disambut oleh tugu menara pandang yang berarsitektur Batak. Dari atas sini kami dapat melihat kaldera Toba termasuk puncak Gunung Pusuk Buhit yang terlihat jelas. Selain itu dikejauhan tampak beberapa air terjun yang mengalir gugusan pegunungan dengan kabut dikejauhan. Kami sampai di sini sekitar pukul 15.00 WIB. Kawanku ingin menunaikan ibadah sholat tetapi memang tidak  ada masjid atau mushola disekitar sini. Akhirnya kawanku mengambil wudhu dengan air minum yang kami bawa dan sholat di salah satu sudut di area menara pandang. Meskipun agak sulit menemukan tempat beribadah, kawanku benar-benar semangat menjelajahi Toba. Sementara kawanku beribadah, aku sibuk merekam keindahan pemandangan Danau Toba dari atas.
Foto Menara Pandang Tele
Foto Pusuk Buhit dari Tele
Sekitar 1 jam kami masih berada di atas sibuk mengambil foto dan selfie. Hujan pun turun dengan cukup deras. Kami memutuskan untuk turun dan segera berteduh ke bawah. Dekat menara pandang ini terdapat toko suvenir yang menjual baju distro, gantungan kunci khas Toba. Hujan yang mengguyur dan cuaca dingin membuat kami memutuskan untuk segera pergi dan mampir di kedai kopi. Kami menemukan sebuah kedai kopi dengan pemandangan Danau Toba yang indah. Kawanku ingin memesan kopi Sidikalang, Siantar atau apapun tetapi sudah habis. Mungkin karena kami datang terlalu sore kopinya sudah habis. Sudahlah kami putuskan untuk minum teh saja ditemani kacang sihobuk. Minum teh sembari menikmati pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir memang sangat menyenangkan. 
Foto Menikmati Teh di depan Pusuk Buhit
Tujuan utama kami hari ini sudah tercapai. Kami memutuskan untuk pulang kembali ke Tuk-Tuk Samosir. Wah perjalanan yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Kami pulang sekitar pukul 17.00 WIB dari Tele. Pulang dengan puas telah menjelajahi apa yang kami ingin jelajahi. Sepanjang perjalanan kami melihat hal yang baru dan bercerita. Tidak lupa juga kami membeli durian Samosir di pertigaan Pangururan. Ternyata penjual durian yang kami lihat saat berangkat masih setia menanti disana. Kawanku yang penggemar durian nomor satu langsung memilih buah durian yang manis. Inilah oleh-oleh kami yang akan dinikmati sampai Tuk-Tuk nanti.

Foto Durian
Sepanjang perjalanan dihiasi dengan matahari sore terbenam yang mulai memerah, sunset. Teringat akan mama dirumah, kami mampir ke sebuah kampung ulos di daerah Pangururan. Tetapi kampung ini sudah dekat dengan Ambarita. Kampung ini terletak di daerah Simarmata tepatnya di Huta Raja, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan Kecamatan Pangururan. Rencananya kami ingin membeli ulos untuk oleh-oleh. Banyak ulos yang warnanya cantik dan motifnya unik. Satu lembar ulos di banderol seharga Rp.200.000-Rp.500.000 untuk yang menggunakan benang kualitas super. Lama pengerjaan yang dibutuhkan bisa mencapai 2 minggu. Ulos yang kecil hanya untuk selendang dihargai sekitar Rp.50.000-Rp.100.000. Benang yang dipakai juga merupakan kualitas kelas dua. Buat kami yang bukan pencinta tenun tradisional, harga tersebut memang cukup mahal. Akhirnya kami mengurungkan niat membeli ulos di kampung ini.
Terlihat regenerasi yang baik di kampung ini dalam menenun ulos. Di sebuah rumah Bolon, terdapat anak berumur sekitar 14 tahun sudah mahir menenun. Bersama dengan mamaknya, ia menenun dengan penuh konsentrasi. Biasanya pekerjaan ini ia ambil setelah pulang sekolah. Kedatangan kami disini disambut oleh namboru penenun dari rumah lain di kampung ini. Seorang namboru Simarmata menawari kami ulos yang berisi tulisan HORAS. Meskipun sudah tua, hampir semua nenek-nenek yang kami temui lancar berbahasa Indonesia.  Kawanku yang mengaku sudah tidak punya boru, ditawarkan masuk boru Simarmata oleh namboru itu. Suatu sore yang penuh canda.
FotoTenun
Hari ini matahari sudah mulai tenggelam. Kami sudah banyak menemukan pengalaman baru yang tidak terlupakan. Kami mengendarai sepeda motor dengan perlahan dengan sejuta pikiran di benak kami masing-masing. Menikmati indahnya alam dan budaya masyarakat Toba, Indonesia.

18 Agustus 2017
Karo, Menaklukkan Ketakutan
Memulai hari dengan sarapan di Hotel Carolina adalah pilihan yang baik. Tempatnya bersih, makanannya enak, dan harganya murah khas traveler budget rendah. Dihari ketiga ini kami baru tahu kalau masing-masing kamar disediakan termos air panas dan dapat meminta ke restoran dan ambil kembali ke kamar. Haha.. kami lupa bukan hotel bintang 5 yang apapun dilayani oleh petugas hotel.
Di hari ketiga ini kami putuskan untuk kembali ke Parapat dan menginap disana. Hari ini kami ingin menjelajahi uniknya tanah Karo. Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk menunggu kapal yang akan membawa kami kembali ke Parapat. Di Parapat kami akan menuju hotel Melisa Parapat (0813-9223-6383). Penginapan ini terletak di pinggir Danau Toba hanya 5 menit berjalan kaki dari pelabuhan Tigaraja dan terdiri dai 4 lantai. Lantai 1 untuk parkir kendaraan pemilik penginapan, lantai 2 untuk tempat tinggal si pemilik penginapan dan yang disewakan hanyalah lantai 3 dan 4. Kami kebagian menginap di lantai 3 dengan kamar standar harganya Rp. 240.000. Penginapannya bersih, ada fasilitas tv, twin bed, kamar mandi, tanpa air panas (hot water). Berbeda dengan di Samosir, disepanjang jalan banyak penyewaan sepeda motor, di Parapat ini kita agak kesulitan menyewa sepeda motor. Beruntungknya kami sudah reservasi dari jauh-jauh hari sehingga pemilik penginpan mau menyewakan motornya seharian meski dengan harga yang lebih mahal yaitu Rp. 100.000/hari. Jangan lupa menyewa helmnya juga untuk 2 orang. Jika tidak menyewa terlebih dahulu, bisa-bisa kita tidak mendapatkan helm.
Foto Kamar Mandi
Foto Kamar Tidur

Sekitar pukul 10.00 WIB kami memulai perjalanan menuju Air Terjun Sipiso-Piso di Tongging, Kabupaten Karo. Perjalanan kami mulai dari Parapat melewati jalur lintas tengah Sumatera. Jalur ini cukup padat karena menghubungkan Medan dengan kota-kota di bagian barat Pulau Sumatera seperti Sibolga, Padang Sidempuan, hingga Bukitinggi. Sampai di pertigaan meuju arah Simarjarunjug, kami mengambil jalur kiri melewati jalan pinggir Danau Toba. Kata pemilik hotel, perjalanan menuju Sipiso-Piso akam kami tempuh sekitar 3-4 jam. Kami melewati hutan, perbukitan, hingga turun ke daerah dataran rendah pinggir Danau Toba. Ternyata pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir memang sangat indah diambil dari jalur ini. Ada satu titik tertinggi untuk menikmati keindahan Danau Toba dari puncak bukit, namanya Bukit Indah Simarjarunjung (BIS). Tempat sepertinya dikelola dengan baik karena terdapat berbagai macam bentuk wahana selfie dan menara pandang untuk menikmati Danau Toba. Sayangnya kami tidak mampir ke tempat ini takut tidak keburu untuk menikmati Sipiso-Piso. Ternyata setelah BIS masih banyak lagi tempat selfie lainnya yang dikelola oleh masyarakat setempat. Kami memutuskan untuk turun sebentar mengambil foto di beberapa titik selfie lainnya. Ternyata setiap kami mengambil foto dikenakan biaya Rp.5000/tempat selfie. Kami bingung karena tidak berniat untuk foto-foto lama di daerah tersebut. Daripada jadi bahan perdebatan, akhirnya kawanku merogoh saku untuk membayar si penjaga menara selfie. Kami bertekad untuk tidak turun lagi mengambil foto dengan handphone.
Foto Pemandangan di Simarjarunjung
Foto Deck Selfie berbayar
Lama-kelamaan jalan yang kami lalui sudah tidak menampakkan pemandangan Danau Toba. Keluar dari Simarjarunjung, kami sudah memasuki wilayah Saribudolok. Pertigaan ini ternyata juga bisa mengantarakan kami langsung ke Pematang Siantar. Karena hari sudah sangat siang, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di Saribudolok. Kami masuk ke sebuah rumah makan padang. Tempatnya cukup besar, luas, meskipun kurang bersih. Tapi untunglah sudah dapat menemukan makanan halal di sini. Makanan yang disajikan cukup enak dengan harga yang relatif murah sektar Rp 30.000-an untuk 2 orang. Berbeda jauh dengan di Samosir. Yang sangat sulit untuk ditemukan apabila berwisata di Danau Toba adalah mushola atau masjid. Beruntung sekali di daerah Saribudolok ini ada satu masjid yang entah kami tidak tahu lokasinya dimana apabila kami tidak bertanya pada pemilik warung. 
Siap makan siang dan menunaikan ibadah, kami melanjutkan lagi perjalanan menuju Sipiso-Piso. Sepertinya akan memakan waktu 1 jam menurut perkiraanku di google maps. Benar saja setelah melewati perbukitan Karo, melihat kebun sayuran dan buah-buahan, kami sampai di pintu masuk Air Terjun Sipiso-Piso. Di pintu masuk, kami dimintai retribusi sebesar Rp 5.000/orang dan 1 sepeda motor. Jarak dari pintu masuk ke area parkir tidak terlalu jauh. Di area parkir ini terdapat WC, penjual suvenir, toilet, warung makan, dan fasilitas penunjang lainnya. Saat kami memarkirkan kendaraan di depan warung makan, kami dimintai Rp.5.000 untuk parkir sepeda motor. Okelah, yang penting sepeda motor kami aman. Dari area parkiran ini sebenarnya sosok air terjun Sipiso-Piso sudah kelihatan di kejauhan. Tingginya mungkin lebih dari 100 meter. Debur air yang jatuh dari ketinggian sudah terdengar sayup-sayup. Melihat jalur trekking yang lumayan menantang kami cukup bersemangat. Katanya butuh sekitar 1 jam untuk sampai di bawah. Begitu juga naiknya nanti butuh waktu sekitar 1 jam juga tergantung stamina dan kondisi fisik masing-masing. Jadi stamina, fisik, air minum, dan perbekalan harus disiapkan dengan baik. Jalur treking air terjun ini sudah dibuat dengan sangat baik. Pegangan di kanan kirinya, stepping stone berupa tangga yang sudah cukup baik. Meski ada beberapa titik yang tangganya tidak mauk akal dan memiliki kemiringan hampir 90 derajat. Ada beberapa loop trail (jalan pintas) yang dapat digunakan pengunjung. Yang sangat disayangkan adalah banyaknya coretan di sekitar dinding pada area trekking. Pasir di tangga yang rusak juga membuat jalanan kami agak licin.
Foto Air Terjun Sipiso-Piso dari kejauhan
Kami tidak berhenti untuk mengambil foto di setiap titik yang dirasa bagus. Kawanku mengatakan bahwa sekarang ia tahu dimana spot foto terbaik Danau Toba yang sering di posting oleh orang-orang. 
Foto Spot terbaik Danau Toba dari Sipiso-Piso
Sekitar 45 menit kami akhirnya tiba di bawah. Dari jarak 20 meter, hempasan air dari Sipiso-Piso sudah membasahi kami. Satu catatan yang harus diperhatikan apabila trekking ke air terjun tinggi seperti ini adalah jas hujan. Apabila tidak ingin kebasahan, bawalah pakaian anti air. Selain itu juga dapat membantu kita apabila cuaca tidak menentu terkadang panas terkadang juga hujan. Kami berdua turun bersama dengan anak-anak sekolah yang sedang tamasya. Jadi di lokasi air terjun cukup ramai. Mereka sibuk berlarian menuju air terjun sembari berteriak-teriak kepada temannya yang lain. Kami membawa kamera DSLR dan tripod untuk dapat mengabadikan air terjun ini. Setelah gear kami siap terpasang, barulah teringat di benak kami kalau DSLR kawanku akan terkena cipratan air. Kami seakan terhenyak dan kawanku meminta buff yang kupakai untuk melindungi kameranya. Jadi, cara kami mengambil foto dengan memanfaatkan arah angin. Apabila angin menuju kami, aktivitas foto dihentikan dan ketika angin berhembus ke arah lain barulah kami mengambil foto. Sulitnya mengambil nature fotografi. 
Foto anak-anak bermain di Sipiso-piso
Puas mengambil foto, selfie, dan mandi air, kami memutuskan untuk segera naik keatas. Langit juga sudah mulai mendung pertanda akan hujan. Kami naik perlahan-lahan dan disuatu titik akhirnya hujan turun dengan derasnya. Untungnya ada bekas warung kecil yang tidak ada penjualnya saat kami mampir dilanda hujan deras. Saat itu, beberapa anak-anak sekolah yang kehujanan juga menunggu bersama kami. Sekitar 15 menit hujan mulai reda. Kami melanjutkan perjalanan. Anak-anak itu udah mendahukui kami. Aku melihat sebuah loop trail yang bisa mengantarkan kami keatas. Aku bertanya pada kawanku ingin manjat atau tidak. Sepertinya ia tidak yakin tapi akhirnya mengiyakan perkataanku. Kami mulai memanjat batu pertama. Sepertinya kawanku memang tidak sanggup untuk menaiki ini. Jalur looptrailnya agak panjang. Ia sudah ketakutan. Bagaimanapun aku merasa bersalah dengan keadaan ini. Ternyata ia benar-benar takut akan ketinggian. Satu hal yang baru aku tahu dan baru aku rasakan saat ini. Meski bagaimanapun saat kuajak turun ia sudah tidak mau lagi. Katanya ia lebih baik naik daripada turun. Aku hanya bisa mensupportnya agar bisa sampai atas. Mengatasi ketakutan kami, ia dan aku akhirnya berhasil sampai diatas meski dengan cemoohan anak-anak sekolah yang menertawakan kami. Satu pelajaran yang ku ambil, aku tidak akan pernah mengajak kawanku wall climbing lagi. 

Foto Daun dan Bukit
Kami melanjutkan sisa perjalanan dengan memikirkan bersyukur kami masih selamat. Sesampainya di area parkir, kami menarik nafas panjang, duduk sejenak, minum air yang kami bawa dan setelah tenang barulah kami melanjutkan perjalanan dengan motor. 
Kawanku ingin sekali mengunjungi Tongging sekitar 5 km dari arah Sipiso-Piso. Jalannya aspal bagus hanya saja menurun terus hingga bawah. Kami mengurungkan niat untuk pergi ke Tongging karena takut hari sudah sore dan sampai ke Parapat terlalu malam. 
Foto Desa Tongging dari atas
Kami memutuskan untuk pulang dari Tanah Karo. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat dingin. Mungkin karena pakaian kami basah, sehabis hujan, ditambah lagi Karo merupakan salah satu daerah dengan suhu terdingin di Indonesia. Kami berhenti di penjual jeruk madu berastagi pinggir jalan menuju arah Saribudolok. Jeruknya kelihatan menggoda berwarna oranye. Di dalamnya, sang ibu penjual jeruk sedang asyik dengan perapian untuk menghangatkan badan. Kami beli jeruk 1 kg seharga Rp. 15.000. Padahal dalam satu kemasan jeruk dengan jaring merah memanjang itu biasanya bisa memuat 5 kg. 
Foto Jeruk Berastagi
Puas mendapat jeruk, kami melanjutkan perjalanan ingin segera sampai di kawasan Simarjarunjung. Karena udara yang sangat dingin, kami memutuskan untuk memakai jas hujan meskipun sore itu sedang tidak hujan. Memakai jas hujan membantu kami mengatasi dingin yang menusuk tulang. Sekitar pukul 16.30 WIB kami sampai di kawasan Simarjarunjung. Aku yang sudah tidak kuat lagi duduk diatas sepeda motor langsung mengajak kawanku untuk berhenti sejenak menikmati kopi, teh ataupun pemandangan Danau Toba dari Simarjarunjung. Aku langsung masuk ke kedai kopi dan memesan segelas teh manis panas. Kawanku juga memesan kopi. Kopi Siantar kata pemilik kedai. Tidak lama kami masuk, kawanku keluar untuk mengambil beberapa foto. Kebetulan disana juga ada spot selfie berupa dek kayu. Saat itu juga ada rombongan orang lokal yang membawa sepeda motor menyerbu masuk ke dalam kedai. Aku bingung karena sepertinya mereka sedang asyik mengobrolkan sesuatu dalam bahasa mereka. Benar saja beberapa saat kemudian ada seorang yang berambut gimbal dan bertampang aneh menyapaku. "Dari mana nya kakak" dengan logat Batak yang kental. "Dari Jakarta" kujawab. "Cobak kakak foto dulu saya pakai walpaper di hape saya" katanya seraya ketawa ketiwi dengan kawan-kawannya yang lain. Aku malas menanggapi orang lokal yang suka menggoda. Aku tahu, kami memang hanya berdua perempuan melakukan perjalanan sejauh ini. lalu kenapa? Apakah diskriminasi seperti itu harus kami dapatkan?. Merasa tidak nyaman, aku segera menghabiskan tehku begitu juga kawanku ku peringatkan untuk segera minum kopinya. Aku sudah malas berada di kedai ini. Kami membayar kopi dan teh tersebut seharga Rp. 10.000. Cukup murah dari pemilik yang ramah. Meski kadang ada orang lokal yang suka menganggu. Saat diluar, kami masih sibuk dengan mengambil foto di deck berlogo hati. Saat akan pindah deck berpigura bunga, ternyata si penjaga retribusi deck tersebut langsung menghampiri kami. Kalau foto satu deck bayar Rp.5.000. Kalau semua 4 deck bayar Rp. 30.000. Hahahahaha kami langsung terkejut dan membayar Rp.10.000. Tanpa tau apa-apa, tanpa ada tarif yang tertulis kami langsung dihampiri dan ditagih. Tidak mau rugi, kawanku minta difoto berdua kepada si penjaga diatas deck love. Absurd rasanya. 'harus love banget nih".Kami tidak mungkin pindah kalau hanya membayar Rp. 10.000. Mau apa lagi, ya diterima saja. Saat kami akan pulang, sang anak juga menagih kami uang Rp. 2.000 untuk parkir. Sore ini kami benar-benar berasa ditodong tanpa tau apa-apa karena harus membayar masing-masing deck selfie. 
Foto 12 ribu perak
Sore ini kami pulang dengan matahari yang sudah mulai memerah akan tenggelam. Kami belum melewati kawaan hutan Pematang Purba di awal masuk pagi tadi. Matahari sudah tenggelam. Kami pun belum sampai di pertigaan Parapat-Siantar. Dingin yang mulai menusuk, jalanan yang gelap tanpa cahaya lampu, pepohonan rindang disebelah kiri dan kanan menandakan kami sudah masuk area hutan. Kawanku bertanya "Coba cek GPS. Berapa lama lagi kita". Aku pun merogoh kantong mengambil peralatan untuk mengecek. Aku bingung, GPS menunjukkan kami sudah sampai di pertigaan Parapat-Siantar. Kawanku sudh bertanya "gimana". Aku jawab "sebentar lagi sampai. Sudah dekat" meskipun dalam hatiku juga bingung kenapa GPS ini meracau. Kawanku memacu sepeda motor yang kami tumpangi lebih cepat. Beruntung jalanan juga lurus. "Hati-hati jangan ngebut santai saja" kataku yang juga mulai takut karena GPS tak kunjung baik. Mobil pun tidak ada yang lewat di belakang kami ataupun arah berlawanan dari kami. Sekitar 10 menit aku hanya menenangkan kawanku dimana aku juga takut. Tidak mungkin aku mengatakan padanya bahwa GPSnya rusak. Sampai suatu saat ada rumah penduduk yang sepertinya digunakan untuk minum tuak bagi masyarakat sekitar sana. Barulah perasaan kami agak lega karena kami sudah menemukan kehidupan. Setelah itu GPS ku kembali berfungsi dan kami langsung tiba di pertigaan Parapat-Siantar-Simarjarunjung. Kami berhenti sejenan untuk mengambil arah menuju Parapat menyeberangi jalanan yang penuh bus dan truk. Disanalah baru kukatakan pada kawanku. "Tadi sejujurnya GPSnya gak jalan. Baru jalan tadi di pertigaan" kataku sambil tersenyum. Ia langsung protes padaku "Apa? Serius?" Hahahahaa dan aku hanya tertawa melihat dia protes dan ngomel-ngomel padaku. Ya.. disanalah kami menemukan yang kami sebut Hutan Horor. 
Perjalanan kembali ke Hotel Mellisa Parapat harus ditempuh sekitar 30 menit lagi. Kami sudah lepas dari hutan yang gelap dan tidak ada kendaraan lain. Masalah kami yang lainnya adalah mobil, truk, bus, yang bersalip-salipan di jalan berkelok. Kami hanya mengendarai motor di pinggir sebelah kiri, tiba-tiba ada truk dari arah berlawanan mendahului truk tronton besar. Pelak saja kami kaget dan membunyikan klakson tetapi truk yang menyalip di depan kami tidak menghiraukannya. Kami sampai berhenti dan truk tronton yang pelan juga berhenti memberikan jalan bagi yang ingin mendahului. Memang gila supir-supir antar lintas Sumatera ini. Kami sampai membuat jargon, Jakarta memang keras. tapi sepertinya Tanah Batak lebih keras. 
Akhirnya dengan tubuh yang sudah lelah, kotoran menempel di badan, kami tiba di Kota Parapat tercinta pukul 19.00 WIB, malam hari. Kami memutuskan untuk makan meski perut tidak lapar. Akhirnya kami makan kwetiau yang lagi-lagi rasanya tidak enak. Kami minta tidak pedas, malah dibuatkan jadi sangat pedas. Belum lagi pemilik warung menyuruhku untuk membayar di kasir belakang tidak bisa di depan. Betul-betul penat aku dengan warung dan kedai di Toba ini. Selesai makan, kami ingin membeli sedikit oleh-oleh makanan dari Samosir seperti mangga udang dan sirup markisa. Kami mendapatkan potongan harga untuk mangga udang yang manis ini. Lumayanlah untuk mengusir rasa penat setelah makan makanan yang rasanya tidak enak.
Foto Malam di Parapat
Kami langsung pulang hanya ingin merebahkan badan di tempat tidur. Perjalanan kami hari ini penuh dengan mengatasi rasa takut.
19 Agustus 2017
Kembali Pulang
Menjelajahi Danau Toba dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan selalu menjadi pengalaman berharga kami. Sejauh apapun kami pergi, perasaan ingin kembali pulang akan tetap ada. Hari ini kami akan segera kembali ke Medan dan balik ke Jakarta. Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap meskipun rasa lelah dan pegal di leher dan bahu masih terasa. Awalnya kami ingin memesan makanan di hotel sebelum pukul 08.00 saat travel menjemput kami. Sekitar pukul 06.30 kami memesan makanan via pesan Whatsapp. Tapi pesanan kami tidak berbalas hingga kami check out. Mungkin si pemilik hotel masih tidur. Kami naik travel tanpa pagi. Sepanjang perjalanan kami hanya minum air dan makan cemilan yang kami beli semalam. Sekitar pukul 10.00 barulah pemilik hotel membalas pesan kami. " Ada yang bisa dibantu". Sontak kami berdua tertawa mendapatkan pesan itu. Kami sudah berangkat jauh dari Parapat. Andaikata makanannya bisa diantar kesini. Perut memang sudah lapar dan keroncongan. Untungnya, siang hari kami berhenti di sebuah restoran ayam yang enak dan murah di Tebing Tinggi.
Travel yang kami tumpangi penuh berpenumpang 6 orang. Ada seorang anak yang akan terbang ke Batam. katanya ke Batuaji dan terbang perdana. Ada seorang kakak di depan yang tidak banyak bicara. Ada 2 orang asing yang akan menginap di Medan. Katanya mereka dari Pulau Weh langsung berangkat ke Samosir. Kami melewati kebun sawit milih entah perusahaan atau perseorangan. Ada insiden sapi dan kambing yang berlarian ke jalan dikejar pemiliknya. Si 2 bule itu hanya tersenyum dan tertawa. sepertinya dia bingung kami akan kemana. Barulah sampai di Bandara Kualanamu ia bersuara dengan kawannya. Awalnya bule itu mengucapkan salam perpisahan kepada kami dikiranya kami akan turun di Bandara. Tapi tidak, kami akan menuju kota Medan sama seperti mereka. Pukul 15.00 kami tida di bandara. Perjalanan yang cukup melelahkan dan lebih lama daripada saat berangkat 2 hari yang lalu. Dari Kualanamu ke kota Medan ternyata cukup lama. Memang tidak jauh, tapi lama karena lalu lintas sangat padat dan macet. Kami sudah gelisah di dalam mobil karena penerbangan kami sekitar pukul 20.30 dari Kualanamu. Akhirnya sekitar pukul 16.30 kami sampai ke kota Medan. Kami ingin turun di masjid raya. Hanya saja abang supirnya ingin lewat jalan tikus dan menurunkan si bule di Sochi Hotel Medan. Si bule mengajak kami ngobrol soal taxi karaoke yang populer di Indonesia. ia juga tidak tahu buah salak yang manis dan bertanya lagi kepada kami. Kami lupa apa bahasa inggrisnya salak. Kami katakan saja buah tropis dan rasanya manis.
Kami sudah tidak tahan berada lebih lama lagi di mobil. Saat si bule itu turun, kami langsung juga turun minta tas kami. Awalnya si supir travel ingin tas kami dibiarkan di dalam mobilnya dan kami jalan-jalan di Medan, lalu dia akan jemput kami di tempat tertentu di Medan dan kami diantar ke bandara. Sontak kami tidak mau dan meminta tas kami. Terjadi tawar menawar diantara kami tetapi kami tetap tidak ingin tas kami ada di mobil itu karena kami ingin naik kereta bandara. Si supir mengiming-imingi kami kalau naik kereta mahal dan sebagainya.
Akhirnya ia menyerah karena kami tetap dengan pendirian kami. Kukeluarkan uang Rp. 160.000 untuk membayar ongkos dari Parapat. Ternyata si supir minta lebih dimana masing-masing orang Rp. 100.000 sehingga totalnya menjadi Rp. 200.000. Mungkin memang tarif ke Medan lebih mahal karena lebih jauh. Toh kami juga lupa menanyakan harga travel ke Medan saat kami pesan melalui telepon malam sebelumnya.
Ternyata Kota Medan sangat panas. Yang pertama terbesit di benak kami adalah mencari tempat ibadah untuk kawanku. Ini sudah sore dan kami harus beristirahat sejenak. Kukeluarkan GPS dan mencari masjid terdekat dari Hotel Sochi. Kesanalah tujuan kami selanjutnya.
Foto Masjid
Sementara kawanku berwudhu, aku sibuk membasuh wajah dan leher agar terasa sedikit sejuk. Kawanku menunaikan ibadahnya dan aku sibuk mencari toko kue untuk oleh-oleh kami. Aku menemukan Bolu Meranti di Jl. Sisingamangaraja Medan. Setelah kawanku selesi sholat, kami berjalan kaki ke arah Bolu Meranti. Tokonya tidak terlalu besar tetapi lumayan penuh dan banyak pembeli. Disini juga terdapat berbagai varian rasa mulai dari bolu meranti, bika ambon, pancake durian, dan masih banyak yang lainnya. Kami menyelesaikan pembelian kue dengan cepat dan segera memesan taksi online untuk mengantar kami ke Stasiun Medan. Ternyata di kota Medan ini ada juga semacam Uber, Grab, dan Gojek.
Kawanku sempat mengobrol santai dengan pengendara taksi online yang ternyata masih seumuran dengan kami. Ia adalah seorang suku Jawa kelahiran Medan. Ayah ibunya sudah lama merantau ke Tebing Tinggi. Ia juga belum pernah pulang ke Jawa. Selama ini yang jadi kampungnya hanyalah Tebing Tinggi. Sambil berbincang di sore hari tak terasa taksi yang kami tumpangi sudah sampai di Stasiun Medan. Kami turun, berterima kasih, dan langsung cetak tiket di loket kereta bandara.
Di Stasiun Medan, ada 2 stasiun. Yang satunya untuk kereta reguler di seputaran Sumatera dan satunya lagi kereta Bandara di branding Railink. Ternyata kami tidak harus pesan tiket jauh-jauh hari. Datang saat itu juga ke loket dan berangkat di jam terdekat juga langsung dilayani. Kebiasaan di Jawa memesan tiket jauh-jauh hari jika tidak ingin kehabisan. Kami berangkat pukul 17.30 itu artinya kami masih punya 30 menit lagi untuk jalan-jalan di Alun-Alun Medan tepat di seberang stasiun. 
Tanpa basa basi kami menitipkan barang bawaan di loket railink dan langsung menuju alun-alun. Disini banyak yang menjual buku bekas, orang-orang yang sedang olahraga sore, dan jajanan pasar. Kawanku sempat membeli semangkuk mie instant, lalu kami berfoto di tulisan MEDAN, mengingat waktu yang kami miliki hanya sedikit kami langsung kembali ke stasiun.
Foto Alun-Alun Medan
Tepat pukul 17.30 kereta kami berangkat. Keretanya kosong, memang tidak banyak yang naik. Kesempatan ini kami gunakan untuk foto-foto naik kereta bandara. Sepertinya tahun depan kereta seperti ini juga yang akan ada untuk ke bandara Soetta. 
Foto Railink
Perjalanan dengan kereta hanya ditemouh selama 30 menit. Tepat waktu, sesuai jadwal. Aku yang kelaparan langsung menyerbu restoran Minang di Kualanamu. Sepertinya memang tidak banyak pilihan makanan di bandara. Restorannya cukup mewah, harganya juga lumayan mahal, tapi rasanya enak. Kalau begini, puas rasanya makan. Setelah kawanku melanjutkan sholat magrib, kami langsung check in 2 jam sebelum keberangkatan. Bandaranya cukup nyaman dan luas, maklumlah internasional. Kami juga lihat beberapa display event wisata, promosi Toba,Sipiso-Piso, dan yang lainnya. Banyak juga toko oleh-oleh yang masih menyajikan dagangan untuk dibeli pelancong yang belum puas berbelanja. Waktu tunggu selama 2 jam pun tak terasa saat di Kualanamu. Kami naik pesawat lagi, tidak saling berbicara. Lelah memang, tapi, ada satu kesenangan tersendiri saat kami mendapatkan pengalaman baru. Menikmati indahnya kaldera Toba, sekeping surga yang jatuh ke bumi.
Foto by : SM
Text by : PA